Minggu, Mei 3, 2026
BerandaBeranda2MOMENTPERINGATANYANGDILUPAKN " Lupa Peringatan, Lupa Nilai: Alarm Keras di Era Milenial "

2MOMENTPERINGATANYANGDILUPAKN ” Lupa Peringatan, Lupa Nilai: Alarm Keras di Era Milenial “

lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(03/04/2026) ~ Di tengah derasnya arus digital, generasi milenial dan bahkan elite kekuasaan tampak semakin abai terhadap hari-hari peringatan yang sejatinya sarat makna. (Rabu, 2 April), menjadi contoh telanjang: dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia dan Hari Buku Anak Internasional, namun gaungnya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk konten viral, politik dangkal, dan konsumsi informasi instan. Ini bukan sekadar kelalaian—ini adalah krisis kesadaran kolektif.

Hari Peduli Autisme Sedunia yang ditetapkan PBB sejak 2007 bukan seremoni kosong. Ia adalah seruan global untuk menghormati hak, martabat, dan akses setara bagi penyandang autisme dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial, dan membutuhkan dukungan serius dari masyarakat, bukan sekadar simpati simbolik.

Ketika negara dan masyarakat lalai memperingatinya, yang terjadi bukan hanya kehilangan momentum—tetapi juga pengabaian terhadap kelompok rentan yang terus berjuang di pinggiran perhatian publik.

Di hari yang sama, Hari Buku Anak Internasional mengingatkan urgensi literasi sejak dini—fondasi berpikir kritis dan peradaban. Diperingati sejak 1967 dan bertepatan dengan ulang tahun Hans Christian Andersen, momen ini bertujuan menanamkan budaya membaca sebagai pilar masa depan anak-anak.

Namun ironi muncul: di era banjir informasi, minat baca justru merosot, tergantikan oleh konsumsi visual cepat yang dangkal. Negara yang abai pada literasi anak, sejatinya sedang menyiapkan generasi yang mudah digiring, bukan generasi yang mampu berpikir.

Bacajuga:MENGAPADUNIAMENGGANGGAPINDONESIASEPERTILEMAHDANDIAM”INDONESIA TERLALU DIAM ATAU STRATEGIS? ANTARA PERSEPSI KELEMAHAN DAN DIPLOMASI SENYAP DI PANGGUNG GLOBAL”

Secara akademik, fenomena ini mencerminkan pergeseran budaya dari collective memory menuju digital distraction. Peringatan publik yang dulu menjadi instrumen edukasi sosial kini kalah oleh algoritma media sosial yang lebih mengutamakan sensasi dibanding substansi. Ketika masyarakat—dari akar rumput hingga pemangku kebijakan—tidak lagi memaknai hari-hari penting, maka yang hilang bukan hanya peringatan, tetapi arah moral dan intelektual bangsa.

Catatan:

Minat baca, baik di kalangan anak didik maupun orang dewasa, kini tampak semakin tergerus oleh arus zaman yang serba instan dan visual; buku perlahan tersisih oleh gawai, media sosial, dan konten singkat yang tidak menuntut kedalaman berpikir.

Hari Buku Anak seharusnya menjadi alarm keras bahwa krisis literasi bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi ancaman serius bagi kualitas intelektual generasi. Tanpa intervensi nyata dari keluarga, sekolah, hingga negara, budaya membaca akan terus merosot, melahirkan masyarakat yang lebih cepat bereaksi daripada memahami, lebih mudah terpengaruh daripada berpikir kritis.

Kesimpulannya tajam: melupakan hari peringatan bukan hal sepele. Itu tanda degradasi kesadaran. Dan jika dibiarkan, bangsa ini bukan hanya kehilangan ingatan, tetapi juga kehilangan masa depan.

IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#PEMERINTAHDAERAHKABUPATENDANKTA,#DINASPENDIDIKAN,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga