Lintaspasundannewa.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(01/04/2026) ~ Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin keras dan terbuka—dari konflik Timur Tengah, rivalitas AS–China, hingga krisis kemanusiaan lintas kawasan—Indonesia kerap dipersepsikan “terlalu diam”. Baik dalam forum internasional maupun dalam respons publik terhadap isu global, suara Indonesia dinilai tidak sekeras negara lain. Namun, dalam kajian hubungan internasional, diam tidak selalu identik dengan lemah. Dalam banyak kasus, itu adalah bentuk strategic restraint—penahanan diri yang disengaja untuk menjaga posisi tawar.
Secara akademik, pendekatan Indonesia lebih dekat pada tradisi “middle power diplomacy” dan non-alignment modern. Indonesia tidak bermain dalam logika konfrontasi terbuka, tetapi memilih jalur konsensus, stabilitas kawasan, dan diplomasi multilateral. Ini terlihat dalam peran aktif di ASEAN, G20, hingga forum OKI. Namun, masalahnya bukan pada substansi kebijakan, melainkan pada persepsi global—di mana kekuatan sering diukur dari visibility (ketampakan), bukan hanya substance (isi).
Ada tiga persoalan utama yang membuat Indonesia terlihat “lemah”:
1. Minimnya komunikasi strategis global
Indonesia sering bekerja di balik layar, tetapi gagal mengemas narasi kuat ke publik internasional. Negara seperti Turki, India, bahkan Qatar, sangat agresif membangun opini global melalui media, think tank, dan diplomasi publik. Indonesia tertinggal dalam aspek ini.
2. Ketidaksinkronan antara pemerintah dan suara publik
Di era digital, kekuatan negara juga ditentukan oleh bagaimana rakyatnya bersuara. Indonesia memiliki populasi besar, tetapi belum terorganisir sebagai kekuatan opini global. Narasi domestik sering tidak terangkat ke level internasional secara sistematis.
3. Absennya simbol kekuatan yang tegas
Dalam teori politik internasional, simbol—baik berupa sikap keras, tindakan nyata, maupun pernyataan tegas—berfungsi sebagai sinyal kekuatan (signaling power). Indonesia cenderung normatif dan hati-hati, sehingga sinyal tersebut tidak terbaca kuat oleh dunia.
Namun demikian, menyebut Indonesia lemah adalah simplifikasi berlebihan. Indonesia justru memainkan peran sebagai “stabilizer state”—negara penyeimbang yang mencegah eskalasi konflik. Dalam banyak kasus, negara seperti ini tidak terlihat dominan, tetapi sangat penting dalam menjaga keseimbangan global.
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan?
Bacajuga:WASPADA SITUS PALSU: DISKOMINFO PANGANDARAN TEGASKAN SITUS RESMI DPRD MENGGUNAKAN DOMAIN.GO.ID
Pertama, Indonesia perlu memperkuat diplomasi naratif—menguasai ruang media internasional dengan posisi yang jelas, tegas, dan konsisten. Kedua, membangun ekosistem opini global dengan melibatkan akademisi, diaspora, dan media internasional. Ketiga, menghadirkan ketegasan selektif: tidak harus keras di semua isu, tetapi pada isu strategis tertentu Indonesia harus berani tampil lebih vokal.
Menurut Seorang pengamat politik internasional menilai urgensi utama Indonesia saat ini adalah memperkuat ketegasan narasi dan konsistensi sikap di panggung global, bukan dengan reaksi emosional atau konfrontatif, tetapi melalui diplomasi yang lebih terbuka, terukur, dan terlihat. Indonesia perlu segera membangun strategic communication yang kuat, menyatukan suara pemerintah dan publik dalam isu-isu kunci, serta berani mengambil posisi jelas pada kepentingan strategis nasional. Tanpa itu, kekuatan substantif Indonesia—baik ekonomi, demografi, maupun geopolitik—akan terus tereduksi oleh persepsi global yang menganggap Indonesia pasif, padahal dalam politik internasional, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas kekuatan itu sendiri.
Kesimpulannya, persoalan Indonesia bukan semata “diam atau lemah”, tetapi kurang terlihat kuat. Dalam dunia yang semakin didorong oleh persepsi, kewibawaan tidak cukup hanya dimiliki—ia harus ditampilkan, dikomunikasikan, dan dipertahankan secara konsisten di mata dunia.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
TINGGAL DI KAMPUNG TERPENCIL DARI DESA TERTINGGAL.
#PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,#KEMENTERIANLUARNEGERI,#DIPLOMASILUARNEGERI,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



