Lintaspasundannews.Di sebuah sudut kota yang tidak masuk Google Maps karena terlalu banyak drama, Iwan Singadinata tiba-tiba membuka praktik baru: Klinik Penyembuhan Patah Hati. Bukan karena punya gelar dokter, tapi karena “pengalaman hidup” yang katanya lebih sadis dari skripsi tiga kali revisi.
Pasien pertamanya: seorang wanita dengan diagnosis berat—putus cinta stadium lanjut. Gejalanya jelas: update status tiap 3 menit, playlist galau level dewa, dan makan cuma mie instan rasa air mata.
“Ini bukan sekadar patah hati,” kata Iwan sambil pakai stetoskop mainan. “Ini sudah masuk kategori ‘mantan masih login di pikiran’.”
Metode penyembuhan ala Iwan pun dimulai. Hari pertama, pasien dilarang menyebut nama mantan. Setiap menyebut, hukumannya minum air putih 2 liter. Hasilnya? Bukan sembuh, malah bolak-balik ke kamar mandi sambil tetap nangis.
Hari kedua, Iwan menyita HP pasien. Diganti dengan radio jadul yang cuma bisa muter lagu dangdut koplo. “Supaya otak reset,” katanya serius. Pasien sempat protes, tapi setelah tiga lagu, malah ikut joget sambil nangis—progres yang menurut Iwan “lumayan absurd tapi bergerak maju”.
Hari ketiga, terapi paling ekstrem: pasien diajak ke warung makan dan dipaksa memilih menu tanpa mengingat mantan. Lima menit pertama gagal. Sepuluh menit kemudian mulai bingung. Lima belas menit kemudian akhirnya pesan nasi goreng tanpa drama. Iwan langsung tepuk tangan, “Ini terobosan! Sudah bisa mikir selain dia!”
Namun puncaknya terjadi di hari ketujuh. Iwan membawa pasien ke cermin besar dan berkata, “Lihat baik-baik. Yang kamu tangisi itu orang yang bahkan tidak tahu kamu lagi nangis. Tapi yang di depan ini—ini yang harus kamu rawat.”
Pasien terdiam. Lalu… tertawa kecil. Untuk pertama kalinya.
Iwan pun mencatat di buku medisnya:
“Kondisi: mulai sadar. Prognosis: bisa sembuh asal tidak stalking lagi jam 2 pagi.”
Klinik Iwan mungkin tidak punya izin resmi, tidak terdaftar di kementerian, dan tidak menerima BPJS. Tapi satu hal pasti—di sana, patah hati tidak disembuhkan dengan obat mahal, melainkan dengan logika, humor, dan sedikit kegilaan yang justru terasa… manusiawi.
By IWAN SINGADINATA



