Selasa, April 28, 2026
BerandaDaerahIsra Mi’raj Bukan Seremoni, Masjid Al-Muna Serukan Perubahan Akhlak Nyata

Isra Mi’raj Bukan Seremoni, Masjid Al-Muna Serukan Perubahan Akhlak Nyata

LintasPasundan-news, Tasikmalaya — Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Muna, Kampung Bongas, Desa Sukakarsa, Kecamatan Sukarame, Sabtu (24/01/2026), menjadi penegasan keras bahwa Isra Mi’raj tidak boleh direduksi menjadi agenda seremonial tahunan tanpa dampak nyata.

Kegiatan ini menjelma sebagai forum refleksi kolektif sekaligus seruan terbuka untuk menghadapi krisis akhlak yang kian mengkhawatirkan, serta dorongan konkret mempercepat renovasi Masjid Al-Muna sebagai pusat pembinaan moral dan karakter umat.

Mengusung tema “Membangun Generasi yang Taat Shalat dan Berakhlakul Karimah”, acara dihadiri Ketua MUI Kecamatan Sukarame, aparatur desa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat, serta ratusan warga RW 003 dan sekitarnya. Tingginya partisipasi jamaah menjadi cermin kesadaran bersama bahwa degradasi moral dan keterbatasan sarana ibadah adalah persoalan riil yang menuntut tindakan kolektif, bukan sekadar jargon religius.

Sejak awal, suasana khidmat terasa kuat. Lantunan Ummul Qur’an dan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam hingga halaman masjid, membuka rangkaian acara yang sarat pesan moral. Dalam sambutannya, perwakilan keluarga pengurus Masjid Al-Muna menegaskan bahwa Isra Mi’raj harus menjadi momentum evaluasi spiritual bersama, bukan ritual simbolik yang selesai tanpa perubahan perilaku umat.

Pesan tersebut dipertegas Ketua MUI Kecamatan Sukarame yang menyoroti kembali fungsi strategis masjid sebagai benteng moral dan pusat pendidikan akhlak masyarakat. Ia menegaskan, di tengah tekanan sosial yang makin kompleks, masjid tidak boleh kehilangan peran substantifnya dan terjebak hanya sebagai ruang ibadah ritual.

Puncak acara diisi tausiyah Kyai Agni Nurobi’i Syafi’i dari Padasuka. Dengan nada lugas, ia menegaskan bahwa shalat adalah fondasi utama pembentukan karakter individu dan masyarakat. Menurutnya, berbagai persoalan sosial yang merebak hari ini tidak lepas dari melemahnya kesadaran beribadah, khususnya shalat.

“Shalat adalah benteng akhlak. Jika shalat ditegakkan, moral akan berdiri. Jika shalat ditinggalkan, kerusakan sosial hanya soal waktu,” tegas Kyai Agni di hadapan jamaah.

Ia menekankan, Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, melainkan tonggak ideologis diturunkannya perintah shalat sebagai pilar utama kehidupan umat Islam.

Dalam tausiyahnya, Kyai Agni juga menyerukan kepedulian nyata melalui amal jariyah untuk renovasi Masjid Al-Muna yang hingga kini masih bergantung pada swadaya masyarakat. Seruan ini menegaskan bahwa pembangunan spiritual umat tidak bisa dipisahkan dari pembangunan fisik rumah ibadah.

Ajakan tersebut langsung ditindaklanjuti melalui prosesi penggalangan dana yang berlangsung khidmat. Atas gagasan Harun Alby yang disampaikan melalui Ketua RW 003, Kyai Agni memandu jamaah bersalawat bersama. Lantunan salawat menggema mengiringi peredaran kotak amal di tengah jamaah, menciptakan suasana haru dan kekhusyukan.

“Sedekah untuk rumah Allah adalah wujud keimanan yang paling nyata. Semoga momentum Isra Mi’raj ini menyatukan pembangunan fisik masjid dengan penguatan spiritual jamaahnya,” ujar Kyai Agni.

Sementara itu, Harun Alby menegaskan bahwa krisis akhlak tidak mungkin dihadapi tanpa lingkungan yang mendukung. Menurutnya, masjid yang layak dan representatif merupakan syarat mutlak agar fungsi pembinaan umat berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Renovasi masjid bukan soal estetika, tetapi memastikan pusat pembinaan umat tetap hidup, aktif, dan berfungsi maksimal,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Kyai Dudung Abdul Latif, generasi penerus tokoh Pondok Pesantren Sumur Picung yang berlokasi tak jauh dari Masjid Al-Muna. Kehadirannya menegaskan kuatnya sinergi masjid dan pesantren sebagai dua pilar utama penjaga nilai-nilai keislaman di Kampung Bongas.

Melalui doa tersebut, jamaah berharap nilai-nilai Isra Mi’raj tidak berhenti sebagai narasi religius, tetapi bertransformasi menjadi perubahan nyata dalam perilaku sosial, sekaligus mempercepat terwujudnya renovasi Masjid Al-Muna sebagai poros pembinaan umat dan benteng moral masyarakat.

Di tengah tantangan zaman dan krisis akhlak yang kian terasa, peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al-Muna menegaskan satu pesan tegas: kebangkitan umat tidak dibangun lewat simbol dan seremoni, melainkan melalui keteguhan shalat, kekuatan akhlak, dan kepedulian nyata terhadap rumah ibadah.

 

**Aris

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga