Lintaspasundan-news, Singaparna — Kegiatan Pentas Seni dan Kreativitas Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar se-Kecamatan Singaparna digelar pada hari libur, sebagai langkah strategis menghindari benturan jadwal dengan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kelas VI.
Ketua panitia, Tete Suherman, S.Pd.I, menjelaskan bahwa semula kegiatan dijadwalkan pada 23 April 2026. Namun, karena bertepatan dengan pelaksanaan TKA di SDN Sukasenang serta keterlibatan sejumlah guru PAI sebagai teknisi, proktor, dan pengawas, maka pelaksanaan dialihkan ke hari libur. Keputusan tersebut telah mendapat izin dari K3S Kecamatan Singaparna.
“Kami khawatir kegiatan akan mengganggu pelaksanaan TKA, apalagi beberapa guru PAI terlibat langsung dalam teknis ujian. Alhamdulillah, K3S memberikan izin sehingga kegiatan bisa tetap berjalan di hari libur,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti oleh 29 Sekolah Dasar dari seluruh wilayah Kecamatan Singaparna, dengan peserta dari kelas 1 hingga kelas 5. Siswa kelas 6 tidak diperkenankan ikut serta karena fokus pada ujian akhir.
Berbagai cabang lomba dipertandingkan dalam kegiatan ini, di antaranya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ), kaligrafi, praktik ibadah salat, azan, Lomba Cerdas Cermat (LCC), pildacil (pidato dakwah cilik), serta qosidah, masing-masing untuk kategori putra dan putri.
Para juara pertama dari setiap cabang lomba nantinya akan mewakili Kecamatan Singaparna ke tingkat Kabupaten Tasikmalaya yang direncanakan berlangsung pada 4–5 Mei 2026 di Sukarame.
Menurut panitia, tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan peserta didik, tidak hanya dalam aspek pengetahuan, tetapi juga kreativitas serta implementasi nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, siswa tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga mampu menampilkan aksi nyata melalui karya dan praktik ibadah. Ini juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang berkarakter dan religius,” tambahnya.
Dalam proses penilaian, panitia melibatkan juri dari internal dan eksternal. Khusus untuk cabang MHQ, dua juri didatangkan dari luar yang berasal dari forum tahfiz, guna menjamin objektivitas dan kualitas penilaian.
Kegiatan ini mendapat antusias tinggi dari peserta dan sekolah, serta diharapkan menjadi wadah pembinaan berkelanjutan bagi generasi muda di bidang keagamaan di Kabupaten Tasikmalaya.
*Aris



