Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(25 APRIL 2026) ~ Pertahanan Indonesia Sebaiknya tak seharusnya menginduk terus ke barat (Amerika) – Perang antara Iran dan Amerika – Israel, sudah terlihat kamampuan keduanya, bisa diprediksi!, serta diestimasi!. Pertahanan Indonesia apa salahnya menunjukkan kemandirian dan berupaya sendiri. Seperti diketahui, sejarah keemasan ilmu pengetahuan dimulai dari kejayaan Islam di abad pertengahan yang kesemua berasal dari Bangsa Persia.
Secara akademik, pertahanan Indonesia memang sebaiknya tidak terlalu bergantung pada satu blok kekuatan, baik Barat maupun Timur. Banyak analis menilai konflik terbaru di Timur Tengah menunjukkan bahwa keunggulan militer modern tidak hanya ditentukan senjata mahal, tetapi juga daya tahan industri, teknologi drone, rudal, siber, logistik, dan kemampuan adaptasi nasional. Perang AS–Iran–Israel juga memperlihatkan bahwa negara besar pun punya keterbatasan biaya politik dan ekonomi.
Bagi Indonesia, posisi terbaik adalah bebas aktif versi modern: berteman dengan semua pihak, tetapi membangun kemampuan sendiri. Artinya memperkuat industri pertahanan nasional, riset kampus, teknologi maritim, satelit, radar, drone pengawasan, keamanan siber, dan SDM teknik. Negara kepulauan seperti Indonesia lebih membutuhkan sistem pertahanan yang cocok dengan geografi nusantara daripada sekadar meniru model Amerika.
Sejarah Persia dan dunia Islam, pada abad pertengahan kawasan. Persia menjadi pusat ilmu pengetahuan: matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan teknik berkembang pesat serta memengaruhi Eropa. Pelajaran pentingnya bukan romantisme masa lalu, tetapi bahwa kejayaan lahir dari investasi ilmu, keterbukaan berpikir, dan dukungan negara pada riset.
NKRI tidak perlu “menginduk” ke Barat. Yang lebih penting adalah mandiri, adaptif, dan cerdas memilih kerja sama internasional, sambil menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kekuatan nasional.
Kini – mau tak mau – suka tak suka, saatnya Indonesia menjunjung tinggi kemampuan sendiri melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan karakter kebangsaan. Jika dahulu semangat perjuangan dilambangkan dengan bambu runcing, maka di era modern kekuatan bangsa bukan lagi sekadar senjata tajam, melainkan ketajaman akal, riset, disiplin, inovasi, serta persatuan nasional. Negara yang maju adalah negara yang mampu mengubah sumber daya dan kecerdasan rakyatnya menjadi daya saing strategis. Karena itu, kebangkitan Indonesia seharusnya dibangun dari kampus, laboratorium, pabrik, sawah, laut, dan institusi yang bekerja profesional demi kemandirian bangsa.
Sekali lagi dan berulang, menurut ahli strategi pertahanan, militer modern bukan hanya diukur dari jumlah pasukan atau kekuatan senjata, tetapi dari profesionalisme, disiplin, penguasaan teknologi, kesiapan logistik, kualitas kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi terhadap ancaman baru seperti siber, drone, serta konflik hibrida. Bagi Indonesia, kekuatan militer ideal adalah yang mampu menjaga kedaulatan negara, melindungi wilayah darat, laut, dan udara, serta menjadi instrumen pertahanan yang tunduk pada konstitusi dan mendukung stabilitas nasional melalui kemampuan yang mandiri dan terukur.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
TINGGAL DI KAMPUNG TERPENCIL DARI DESA TERTINGGAL.#KOKOLOTBEGOG
#MARKASBESARTENTARANASIONALINDONESIA,#MENTERIPERTAHANANKEAMANAN,#PANGLIMATNI,#PARAKEPALASTAFTNI,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



