Lintaspasundannews.TASIKMALAYA KOTA.(21 APRIL 2026) ~ Pemprov Jabar: Bertanggung jawab atas penataan dan revitalisasi besar, termasuk anggaran.Namun pada kenyataannya berbagai infrastruktur yang seharusnya tertata dibiarkan dan terbengkalai, terlihat kumuh. Padahal Situ Gede di Kota Tasikmalaya merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat & pemerintah Tasikmalaya kota.
Bila Situasi seperti ini dibiarkansudah jelas menunjukkan adanya kesenjangan antara perencanaan kebijakan dan pelaksanaan di lapangan. Jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya telah menjadikan Situ Gede sebagai proyek kolaboratif, maka tanggung jawab tidak berhenti pada pembangunan awal, tetapi juga pemeliharaan, kebersihan, penataan pedagang, drainase, ruang publik, dan pengawasan berkelanjutan. Ketika kawasan wisata dibiarkan kumuh dan terbengkalai, publik wajar menilai ada lemahnya koordinasi, minim evaluasi, atau rendahnya komitmen menjaga aset daerah yang dibangun dari uang rakyat.
Jika setiap pengunjung Situ Gede dikenakan tiket masuk Rp5.000, maka secara prinsip pungutan itu harus memiliki dasar hukum jelas, mekanisme pengelolaan transparan, dan peruntukan nyata seperti kebersihan, keamanan, perawatan fasilitas, parkir terpadu, petugas lapangan, serta peningkatan kawasan.
Bila dikelola pemerintah daerah atau BUMD resmi, umumnya penerimaan tersebut masuk sebagai PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui pos retribusi atau pendapatan sah lainnya. Namun bila masyarakat melihat kawasan tetap kumuh dan fasilitas minim, wajar muncul pertanyaan apakah dana itu tercatat, diaudit, dan benar-benar kembali untuk pelayanan publik. Transparansi laporan pendapatan serta penggunaan dana menjadi kunci agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Para pengunjung terganggu oleh sampah yang menumpuk dan dibiarkan di berbagai titik kawasan Situ Gede menunjukkan lemahnya tata kelola lingkungan, pengawasan, dan pelayanan dasar. Jika pengunjung dipungut tiket masuk, maka kebersihan seharusnya menjadi prioritas utama. Kondisi ini bukan sekadar soal estetika, tetapi menyangkut kesehatan, kenyamanan warga, citra daerah, dan kepercayaan publik terhadap pengelola. Pembiaran sampah biasanya menandakan kurangnya petugas kebersihan, minim sarana tempat sampah, atau buruknya manajemen anggaran dan koordinasi antarinstansi.
Akses jalan sekitar 5 km yang mengelilingi kawasan Situ Gede bila rusak parah dan tak berbentuk menunjukkan kegagalan pemeliharaan infrastruktur dasar. Jalan kawasan wisata dan olahraga seharusnya menjadi prioritas karena dipakai masyarakat setiap hari untuk jogging, bersepeda, UMKM, dan mobilitas warga sekitar. Kerusakan yang dibiarkan lama mencerminkan lemahnya respons pemerintah, padahal hal itu berisiko menimbulkan kecelakaan, mengurangi minat pengunjung, serta menurunkan nilai ekonomi kawasan. Jika ada pungutan tiket masuk, publik wajar mempertanyakan ke mana arah penggunaan dana dan mengapa perbaikan jalan belum menjadi perhatian utama.
Gubernur Jawa Barat diharapkan segera turun tangan menangani ekosistem kawasan Situ Gede karena kawasan ini bukan sekadar destinasi, melainkan paru-paru kota yang menopang kualitas udara, resapan air, keseimbangan lingkungan, serta ruang sehat bagi masyarakat. Penanganan serius diperlukan melalui pembersihan sampah, pemulihan vegetasi, perbaikan akses jalan, penataan pedagang, dan pengawasan lintas instansi. Jika dibiarkan rusak, yang terancam bukan hanya wajah kota, tetapi juga keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa depan.
Sepertinya Walikota Viman Alfarizi terlihat bingung, karena lambatnya penanganan masalah, kurang jelasnya prioritas program, minim komunikasi publik, atau belum tampaknya hasil nyata di lapangan seperti penataan Situ Gede. Pemimpin dinilai bukan dari kesan, melainkan dari kemampuan mengambil keputusan, memberi arah, dan menyelesaikan persoalan warga secara terukur.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA)
#GUBRNURJAWABARATKDM,#WALIKOTATASIKMALAYA,#DINASPARAWISATAPROVINSIJAWABARAT,#DINASPARAWISATATASIKMALAYAKOTA,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYP,#VIRAL,#SOROTANTAJAM,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



