Selasa, April 28, 2026
BerandaBerandaHari Kartini di Pemkab Tasikmalaya menyedihkan Emansipasi wanita dibuat semu tanpa makna...

Hari Kartini di Pemkab Tasikmalaya menyedihkan Emansipasi wanita dibuat semu tanpa makna “

lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(21 APRIL 2026) ~ Hari Hari Kartini di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya seharusnya menjadi momentum penghormatan atas gagasan R.A. Kartini, namun justru terasa menyedihkan ketika semangat emansipasi perempuan hanya dijadikan seremoni tanpa keberanian membuka ruang kepemimpinan nyata bagi kaum wanita.

Tuntutan kesetaraan gender makin terasa di tengah masyarakat, tetapi penghormatan kepada pejuang yang dahulu memperjuangkan pendidikan, martabat, dan hak perempuan seakan dilupakan. Jika perempuan masih sebatas pelengkap acara dan belum diberi akses setara dalam jabatan strategis, maka peringatan ini berubah menjadi simbol kosong—ramai diperingati, tetapi miskin makna.

Bacajuga:PERAN DAN KINERJA PARA GUBERNUR – ETIKA YANG DIBANGUN – SALING MENGHORMATI – KEWILAYAHAN ADMINISTRATIF”

Tampaknya para wanita Sepertinya kini tak peduli lagi pada momen Hari Kartini: kebebasan berbicara, kesempatan belajar, bekerja, dan berperan di ruang publik yang hari ini dinikmati bukan hadir begitu saja, melainkan lahir dari perjuangan panjang para pendahulu seperti R.A. Kartini. Mengabaikan momen ini bukan sekadar melewatkan tanggal di kalender, tetapi berisiko melupakan sejarah, nilai perjuangan, dan tanggung jawab untuk meneruskan kemajuan perempuan dengan karya nyata, integritas, serta kepedulian pada sesama wanita.

Seorang ASN inisial (Y) saat dikonfirmasi penulis menyebutkan hanya Hari Ibu yang diperingati, ini jelas menunjukkan pemahaman yang kurang utuh terhadap makna sejarah. Hari Kartini dan Hari Ibu memiliki ruh perjuangan yang berbeda namun saling melengkapi: satu menegaskan emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan, sementara lainnya menghormati peran ibu dan perempuan dalam keluarga serta bangsa. Mengabaikan salah satunya berarti menyempitkan kontribusi perempuan hanya pada satu sisi, padahal sejarah menunjukkan peran wanita jauh lebih luas.

Catatan penting bagi kaum Kartini.
Menurut pandangan Ibnu Khaldun, masyarakat atau lembaga yang melupakan sejarah akan kehilangan arah karena tidak lagi memahami asal-usul nilai, perjuangan, dan sebab kemajuan maupun kemunduran. Ketika memori kolektif diabaikan, keputusan menjadi dangkal, penghormatan pada jasa pendahulu memudar, dan kesalahan lama mudah terulang. Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin untuk menjaga martabat serta menata masa depan dengan lebih bijaksana.

IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga