TASIKMALAYA.Lintaspasundannews.(30/9/2026) ~ Sejarah umat manusia tidak selalu berjalan dalam suasana damai. Bahkan dalam perjalanan sejarah Islam, yang mengajarkan persaudaraan, keadilan dan perdamaian, pernah terjadi konflik internal yang menimbulkan pertumpahan darah serta meninggalkan luka panjang dalam kehidupan umat.
Karena itu, ketika masyarakat Indonesia memperingati tragedi politik seperti G30S/PKI, muncul pertanyaan: apakah dalam sejarah Islam juga pernah terjadi tragedi yang melibatkan konflik kekuasaan, pertentangan antarkelompok dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting?
Jawabannya adalah ya.
Salah satu periode yang dikenal dalam sejarah Islam adalah Fitnah Pertama, yang berlangsung sekitar 656–661 M. Konflik tersebut muncul setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan berkembang menjadi konflik bersenjata di antara kelompok-kelompok Muslim.
Beberapa dekade kemudian, terjadi tragedi Karbala pada 680 M. Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, bersama kelompok kecil pengikutnya terbunuh dalam konflik dengan pasukan Umayyah.
Dua peristiwa tersebut merupakan bagian penting dari sejarah politik Islam dan meninggalkan pengaruh panjang terhadap perkembangan masyarakat Muslim.
Tragedi Sejarah dan Keterbatasan Manusia
Jika tragedi-tragedi tersebut dibandingkan dengan sejarah politik Indonesia, tentu harus dilakukan secara hati-hati. Karbala dan G30S/PKI berlangsung pada zaman, sistem politik, struktur masyarakat dan konteks sejarah yang sangat berbeda.
Namun terdapat satu pelajaran yang dapat direnungkan bersama: manusia mempunyai kehendak, kepentingan dan rencana, tetapi manusia tidak pernah mengetahui keseluruhan rencana Allah terhadap perjalanan kehidupan.
Al-Qur’an mengingatkan:
«وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ»
«“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”
QS. At-Takwir [81]: 29»
Ayat tersebut mengajarkan bahwa kehendak manusia tidak berdiri sendiri. Namun ayat ini tidak berarti manusia bebas melakukan kejahatan kemudian melepaskan tanggung jawab dengan alasan bahwa semuanya merupakan kehendak Allah.
Manusia tetap diperintahkan memilih kebaikan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Al-Qur’an juga menegaskan:
«لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا»
«“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.”
QS. At-Talaq [65]: 7»
Sementara dalam menghadapi sesuatu yang telah terjadi, Al-Qur’an memberikan perspektif penting:
«وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
«“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
QS. Al-Baqarah [2]: 216»
Ayat ini mengandung sebuah pelajaran besar: pengetahuan manusia sangat terbatas, sedangkan pengetahuan Allah meliputi apa yang tidak mampu diketahui manusia.
Kehendak Allah Bukan Pembenaran atas Kezaliman
Di sinilah diperlukan kehati-hatian dalam membaca sejarah.
Ketika sebuah tragedi terjadi, tidak tepat apabila setiap tindakan manusia yang zalim kemudian dianggap otomatis menjadi sesuatu yang benar hanya karena akhirnya terjadi dalam kehidupan.
Pembunuhan, pengkhianatan, kekerasan dan kezaliman tetap merupakan tindakan manusia yang memiliki konsekuensi moral.
Allah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ»
«“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.”
QS. Yunus [10]: 44»
Maka, memahami bahwa segala sesuatu berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah bukan alasan untuk membenarkan kejahatan manusia.
Justru manusia diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa.
Sejarah sebagai Cermin, Bukan Senjata Dendam
Dari Karbala maupun dari berbagai tragedi politik dalam sejarah Indonesia, terdapat satu pelajaran yang sangat penting bagi generasi sekarang: jangan menjadikan sejarah sebagai senjata untuk mewariskan dendam.
Sejarah harus dipelajari berdasarkan fakta, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan konteks zamannya.
Al-Qur’an bahkan mengajarkan agar manusia tidak membiarkan kebencian membuatnya berlaku tidak adil:
«وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ»
«“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Ma’idah [5]: 8»
Ayat tersebut sangat relevan dalam membaca sejarah yang penuh konflik.
Kita boleh mengingat korban. Kita boleh mencari kebenaran sejarah. Kita boleh berbeda dalam menafsirkan sejumlah peristiwa. Tetapi keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian.
Catatan Akhir: Memahami Rencana Allah dengan Kerendahan Hati
Pada akhirnya, manusia hanya mampu melihat sebagian kecil dari rangkaian sejarah.
Apa yang dianggap sebagai akhir oleh satu generasi mungkin justru menjadi awal bagi generasi berikutnya. Apa yang dipandang sebagai kemenangan pada suatu masa bisa melahirkan persoalan baru pada masa berikutnya.
Al-Qur’an mengingatkan:
«وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»
«“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
QS. Al-Baqarah [2]: 216»
Karena itu, tragedi sejarah sebaiknya tidak hanya dilihat dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih jauh, manusia perlu bertanya: apa pelajaran yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya?
Mungkin di situlah salah satu cara manusia memahami kehendak dan kebijaksanaan Allah: bukan dengan mengklaim mengetahui seluruh rencana-Nya, melainkan dengan merenungkan peristiwa, mengambil hikmah, menegakkan keadilan dan berusaha agar kesalahan manusia tidak kembali menjadi tragedi bagi manusia lainnya.
Sebab manusia mempunyai rencana, tetapi Allah mempunyai pengetahuan yang melampaui seluruh rencana manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab.
( IWAN SINGADINATA/ERVAN PRADESA)
TAG (#)
#TRAGEDIKELAM30SEPTEMBER #MABESTNI #MABESPOLRI #MENHANKAM #PANGLIMATNI #KAPOLRI #PANGDAM #TOKOHLINTASAGAMA #PUBLIK #FYP #VIRAL #SEMUAORANG #SOROTANTAJAM



