Rabu, April 29, 2026
BerandaBerandaInflasi Pengamat atau Inflasi Kekuasaan? Sesneg Jangan Menilai Rendah Latar Belakang "

Inflasi Pengamat atau Inflasi Kekuasaan? Sesneg Jangan Menilai Rendah Latar Belakang “

lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(15 APRIL 2026) ~ Pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya soal “inflasi pengamat” patut dibaca sebagai sinyal bahwa pemerintah mulai gelisah terhadap derasnya opini publik. Dalam negara demokrasi Pancasila, ruang bicara tidak boleh diukur semata dari ijazah, gelar, atau latar belakang profesi. Kritik, analisis, dan pandangan warga merupakan bagian dari denyut kehidupan bernegara, karena omkebenaran tidak selalu lahir dari ruang akademik formal, tetapi juga dari pengalaman sosial dan pembacaan realitas lapangan.

Menilai seseorang tak layak berbicara hanya karena bukan ahli beras, bukan ekonom, atau bukan militer justru berbahaya bagi iklim demokrasi. Negara bisa terjebak pada elitisme berpikir, seolah hanya segelintir orang yang berhak menafsirkan keadaan bangsa. Padahal era digital membuka ruang partisipasi luas, tempat rakyat ikut mengawasi, mengkritisi, bahkan memberi solusi atas kebijakan yang menyentuh hidup mereka sehari-hari.

Bacajuga:Kapolres Tasikmalaya Kota Berikan Tali Asih kepada Korban Bencana Alam di Sejumlah Wilayah

Yang dibutuhkan pemerintah bukan membatasi suara, melainkan memperkuat tradisi adu data dan adu gagasan. Jika ada pengamat keliru, bantah dengan fakta. Jika ada kritik tajam, jawab dengan kinerja. Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang sunyi, tetapi demokrasi yang ramai oleh perdebatan cerdas dan tetap menjaga keutuhan Indonesia. Sebab ancaman terbesar bangsa ini bukan banyaknya pengamat, melainkan bila kekuasaan mulai alergi terhadap pendapat.

Catatan untukmu Teddy Indra Wijaya.

Menurut banyak ulama akhlak Islam seperti Imam Al-Ghazali, merendahkan orang lain adalah penyakit hati yang lahir dari kesombongan, karena seseorang merasa dirinya lebih mulia dan menjadi SESNEG dibanding saudaranya. Islam menegaskan bahwa kemuliaan manusia bukan pada jabatan, harta, atau kepandaian, melainkan ketakwaan dan akhlaknya. Karena itu, siapa pun yang menghina, mengejek, atau meremehkan serta merendahkan sesama, sejatinya sedang merusak martabat dirinya sendiri, sebab lisan yang melukai orang lain mencerminkan jiwa yang belum dewasa.

IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#PRESIDENREPUBLIKINDONESIA,#HPRABOWOSUBIANTO,#SEKRETARISKABINET,#TEDDIINDRAWIJAYA,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYP,#VIRAL,#SOROTANTAJAM,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga