Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(19/12/2025) – Setiap peringatan Hari Ibu, ruang publik dipenuhi seremoni. Pejabat menyampaikan pidato, spanduk ucapan dipasang, media sosial dibanjiri foto dan kalimat manis. Namun di luar bingkai perayaan itu, realitas ibu-ibu pekerja informal nyaris tak berubah.
Di sudut taman setda pemkab tasikmalaya,seorang ibu bernama Ifah Nurlatifah sedang duduk dibawah pohon dari kampung beuleukeuteuk yang berlokasi dibelakang komplek perkantoran sekretariat pemerintah daerah, terlihat sedang menjual kopi seduh sambil tersenyum pada setiap orang yang melewatinya, tak lupa menawarkan “pak kopi-kopinya pak, ucap bu ifah.
Penulis juga melihat termos, gelas plastik, dan gula serta botol minuman air mineral yang berada dalam kantong plastik merah. sayangnya dan sudah dipastikan, Ia tidak akan masuk dalam narasi perayaan. Dan mungkin takkan disebut dalam pidato hari ibu. para ibu yang senasib dengan bu ifah tidak menjadi objek kebijakan khusus. Padahal, dialah potret paling nyata dari “pengorbanan ibu” yang sering dielu-elukan.
Hari Ibu kerap direduksi menjadi ritual simbolik. Negara dan masyarakat memuja figur ibu sebagai lambang kesabaran dan ketangguhan, tanpa sungguh-sungguh membenahi kondisi struktural yang memaksa jutaan ibu bekerja di sektor rentan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan mayoritas perempuan pekerja di sektor informal tidak memiliki jaminan sosial, penghasilan tetap, maupun perlindungan kerja. Mereka dipuji ketabahannya, tetapi dibiarkan menanggung risiko sendiri.
Ibu penjual kopi seduh itu bekerja tanpa kontrak, tanpa asuransi kesehatan, dan tanpa kepastian lokasi berdagang. Hari ini boleh berjualan, besok bisa digusur. Ia bukan tidak bekerja keras—justru sistemlah yang tidak bekerja untuknya.
Ironisnya, negara rajin menggelar peringatan Hari Ibu dengan anggaran yang tidak kecil. Namun, perlindungan konkret bagi ibu-ibu pekerja informal masih tertinggal. Bantuan sosial tidak merata, pelatihan usaha sering berhenti di seminar, dan akses permodalan tetap berbelit. Perayaan berjalan, ketimpangan berlanjut.
Kita terlalu sering memuliakan ibu sebagai konsep moral, bukan sebagai subjek ekonomi dan sosial. Ketika ibu diposisikan semata sebagai simbol pengorbanan, penderitaan mereka menjadi seolah wajar. Seolah sudah kodrat ibu untuk bertahan dalam kemiskinan, selama tetap disebut “hebat”.
Padahal, penghormatan sejati pada ibu tidak lahir dari bunga atau ucapan. Ia hadir dalam kebijakan upah layak, jaminan sosial, perlindungan pedagang kecil, serta ruang publik yang aman bagi perempuan pekerja. Ia hadir ketika ibu penjual kopi tidak lagi membawa seluruh hidupnya dalam satu kantong plastik.
Jika Hari Ibu hanya berhenti pada seremoni, maka ia gagal menjawab realitas. Lebih buruk lagi, ia menjadi pengalih perhatian dari kewajiban negara dan masyarakat untuk memastikan ibu-ibu bisa hidup dengan martabat.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar menghormati ibu, atau hanya nyaman merayakannya setahun sekali—sementara sisanya kita biarkan berjuang sendirian?.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#KementerianPemberdayaanPerempuandanPerlindunganAnakRepublikIndonesia
#paraibupejabatdaerahseluruhindonesia
#kementrian,#gubernur,#bupati,#walikota,#organisasidharmawanita,#pkk,#organisasiwanitaseluruhindonesia,#publik,#fypviral,#semuaorang,#sorotantajam,#beritapopulertahun2025,#indonesiantopoftheworld



