TASIKMALAYA.Lintaspasundnnews.(30/9/2026) — Setiap tanggal 30 September, dunia memperingati sejumlah momentum internasional yang memiliki makna berbeda. Di antaranya adalah Hari Podcast Internasional dan Hari Penerjemahan Internasional. Keduanya memperlihatkan satu hal penting: kreativitas manusia tidak pernah berhenti berkembang, bahkan ketika teknologi dan cara masyarakat berkomunikasi terus berubah.
Podcast, misalnya, bukan lagi sekadar rekaman percakapan yang kemudian diunggah ke internet. Ia telah berkembang menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, ilmu pengetahuan, kebudayaan, kritik sosial, hingga cerita kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, penerjemahan menjadi jembatan yang memungkinkan gagasan tersebut melintasi batas bahasa dan negara. Sebuah karya ilmiah, buku, film, wawancara, maupun karya budaya dari satu bangsa dapat dipahami masyarakat bangsa lain karena adanya proses penerjemahan.
Kreativitas Tidak Selalu Berasal dari Ruang Besar
Perkembangan podcast memberikan pelajaran bahwa karya kreatif tidak selalu harus lahir dari studio besar dengan peralatan mahal.
Anak muda di daerah pun dapat membuat podcast dari ruang sederhana, membicarakan sejarah daerahnya, kesenian tradisional, kehidupan petani, UMKM, pendidikan, lingkungan, hingga persoalan sosial masyarakat.
Demikian pula seorang penerjemah tidak sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Penerjemahan membutuhkan pemahaman konteks, budaya, maksud penulis, serta karakter masyarakat yang menjadi pembaca.
Karena itu, kreativitas seharusnya tidak hanya diukur berdasarkan popularitas atau jumlah penonton. Nilai sebuah karya juga terletak pada pengetahuan, pengalaman dan manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat.
Daerah Jangan Hanya Menjadi Penonton
Momentum ini semestinya menjadi bahan pemikiran bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas dan masyarakat.
Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, memiliki kekayaan budaya, sejarah, bahasa, seni tradisional, kerajinan dan berbagai kisah masyarakat yang sebenarnya dapat menjadi bahan karya digital.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana kekayaan tersebut didokumentasikan secara kreatif?
Jangan sampai cerita mengenai suatu daerah justru lebih banyak ditemukan melalui pihak luar, sementara masyarakat daerahnya sendiri tidak cukup aktif mendokumentasikan dan menerjemahkan kekayaan tersebut ke dalam bahasa yang dapat dikenal masyarakat nasional maupun internasional.
Podcast berbahasa Indonesia, Sunda, Inggris, Korea atau bahasa lainnya dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya masyarakat.
Begitu pula penerjemahan cerita rakyat, buku sejarah lokal, karya sastra, penelitian akademik dan dokumentasi budaya dapat membuka pintu agar kekayaan daerah tidak berhenti sebagai pengetahuan masyarakat setempat.
Teknologi Harus Menjadi Alat, Bukan Pengganti Kreativitas
Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi penerjemahan otomatis memang semakin memudahkan manusia. Namun teknologi tetap membutuhkan manusia untuk menentukan konteks, keakuratan makna, etika dan nilai budaya sebuah karya.
Di sinilah kreativitas manusia tetap memiliki posisi penting.
Teknologi dapat membantu seseorang membuat podcast, menerjemahkan naskah, menyusun suara dan menyebarkan karya ke seluruh dunia. Tetapi gagasan, pengalaman, kepekaan budaya dan tanggung jawab terhadap kebenaran informasi tetap membutuhkan manusia.
Dari Peringatan Menjadi Gerakan Kreatif
Karena itu, Hari Podcast Internasional dan Hari Penerjemahan Internasional sebaiknya tidak berhenti sebagai catatan kalender.
Peringatan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengajak sekolah, perguruan tinggi, komunitas, pemerintah daerah, media dan generasi muda menciptakan karya.
Mengapa tidak setiap daerah memiliki arsip podcast mengenai sejarahnya? Mengapa tidak ada gerakan menerjemahkan karya terbaik masyarakat daerah ke dalam bahasa internasional? Mengapa cerita mengenai tokoh lokal, seni tradisional dan kehidupan masyarakat hanya tersimpan dalam ingatan, bukan dalam arsip digital?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru menjadi tantangan kreativitas pada era digital.
Dunia sedang bergerak dari masyarakat yang hanya mengonsumsi informasi menuju masyarakat yang juga mampu memproduksi dan menyebarkan pengetahuan.
Maka, 30 September semestinya menjadi pengingat bahwa kreativitas bukan sekadar mencari perhatian di ruang digital. Kreativitas yang lebih bernilai adalah kreativitas yang mampu merekam kehidupan, menyebarkan pengetahuan, mempertemukan budaya dan meninggalkan warisan intelektual bagi generasi berikutnya.
Dan dari daerah sekalipun, sebuah karya sederhana dapat menembus batas negara apabila dikerjakan dengan gagasan, kualitas dan kesungguhan.
(IWAN SINGADINATA/ERVAN PRADESA)
TAG (#)
#PUBLIK #SEMUAORANG #SOROTANTAJAM #FYP #VIRAL



