Minggu, Mei 3, 2026
BerandaBerandaUJIANBULANSUCIRAMADHAN " Anggota BAIS TNI Diduga Terlibat Penyerangan Aktivis KontraS: Cermin Lemahnya...

UJIANBULANSUCIRAMADHAN ” Anggota BAIS TNI Diduga Terlibat Penyerangan Aktivis KontraS: Cermin Lemahnya Manajemen Intelijen Strategis

Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(19/03/2026) ~ Kasus dugaan keterlibatan anggota BAIS TNI dalam penyerangan terhadap aktivis Andrie Yunus dari KontraS bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan indikasi serius atas kegagalan manajemen intelijen strategis – Dalam doktrin intelijen modern, operasi di dalam negeri yang menyasar aktor sipil kritis terhadap negara justru mencerminkan disorientasi fungsi intelijen—yang semestinya berfokus pada ancaman eksternal dan stabilitas nasional berbasis hukum, bukan represi.

Pandangan ini selaras dengan pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War, yang menekankan bahwa operasi intelijen harus presisi, terukur, dan berorientasi pada kemenangan tanpa konflik terbuka. Ketika instrumen intelijen digunakan secara kasar dan terbuka, itu menandakan kegagalan dalam prinsip “supreme excellence”—yakni menaklukkan tanpa pertempuran. Dalam konteks ini, aksi kekerasan terhadap aktivis justru memperlihatkan ketidakmampuan membaca lanskap sosial-politik secara cermat.

Dari perspektif Barat, Sherman Kent—pelopor analisis intelijen modern di CIA—menegaskan bahwa intelijen strategis harus berfungsi sebagai penyedia informasi objektif bagi pengambil keputusan, bukan alat operasional untuk tindakan represif. Ketika batas antara analisis dan operasi dilanggar, maka institusi intelijen berpotensi kehilangan legitimasi serta kredibilitasnya di mata publik maupun komunitas internasional.Lebih jauh, Michael Herman dalam kajiannya tentang intelijen negara menekankan pentingnya akuntabilitas dan kontrol sipil dalam operasi intelijen. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, tindakan di lapangan rawan menyimpang dari tujuan strategis negara. Dugaan keterlibatan aparat dalam kekerasan terhadap aktivis sipil menunjukkan adanya potensi “overreach”—yakni penggunaan kekuatan di luar mandat yang seharusnya.

Jika benar keterlibatan itu terjadi, maka persoalannya bukan hanya pada pelaku individu, tetapi pada desain dan kultur manajemen intelijen itu sendiri. Intelijen yang sehat adalah intelijen yang bekerja dalam bayang-bayang hukum, bukan di luar hukum. Ketika aparat intelijen justru menjadi sumber ancaman bagi warga negara, maka yang tergerus bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga fondasi demokrasi.

Bacajuga;Menunggu Kejujuran Negara: Siapa di Balik Teror Air Keras terhadap Aktivis? “

Kasus ini menjadi ujian serius bagi negara: apakah mampu menegakkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, atau justru membiarkan praktik-praktik gelap terus berlangsung di balik nama stabilitas.
Dalam negara demokrasi modern, tidak ada ruang bagi intelijen yang bekerja tanpa kendali—karena kekuatan tanpa akuntabilitas pada akhirnya akan berbalik menjadi kelemahan strategis itu sendiri.Menurut Catatan Ahli:
Penyerangan terhadap rakyat sendiri—terlebih terhadap aktivis seperti Andrie Yunus dari KontraS—merupakan kesalahan fatal dalam perspektif negara modern. Dalam teori hubungan sipil-militer yang dikemukakan Samuel P. Huntington, legitimasi kekuatan negara justru bertumpu pada perlindungan terhadap warga sipil, bukan represi terhadap suara kritis. Ketika aparat negara, termasuk unsur BAIS TNI, diduga berbalik menjadi ancaman bagi rakyatnya sendiri, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga prinsip dasar negara hukum—sebuah kondisi yang dalam jangka panjang dapat melemahkan stabilitas nasional secara struktural.

Dalam perspektif Ibnu Khaldun, tindakan kekuasaan yang menindas rakyatnya sendiri adalah awal dari keruntuhan sebuah peradaban. Dalam Muqaddimah, ia menegaskan bahwa kekuasaan yang bertumpu pada kezaliman akan menghancurkan ‘ashabiyyah (solidaritas sosial) yang menjadi fondasi kekuatan negara. Ketika aparat justru menyasar warga sipil dan aktivis seperti Andrie Yunus dari KontraS, maka negara sedang menggerus basis loyalitas rakyatnya sendiri—sebuah kondisi yang, menurut Ibnu Khaldun, tak terelakkan akan mempercepat delegitimasi kekuasaan dan membuka jalan menuju kemunduran.

IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
TINGGAL DI – KAMPUNG TERPENCIL
DARI DESA TERTINGGAL.
#MENHANKAMSJAFRIESJAMSUDIN
#MABESTNI,#PANGLIMATNI,#PARAKEPALASTAFTNI,#KEPALABADANINTELEJENINDONESIA,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD,#SOROTANTAJAM,#BERITATAHUN2026

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga