Oleh: *Wahid MA*
Koresponden Lintaspasundannews.com
TASIKMALAYA – Suasana tegang namun penuh kehati-hatian menyelimuti proses evakuasi sarang tawon berjenis Vespa, yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan odeng, di lingkungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) KH Burhan, Kampung Sukahurip RT 05/01, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (19/5/2026). Selama hampir lima jam, tim penyelamatan bekerja keras menaklukkan ancaman nyata bagi keselamatan warga, terlebih karena sarang tersembunyi di balik struktur atap bangunan dan berdekatan dengan jaringan instalasi listrik yang padat.
Risiko yang dihadapi bukanlah hal sepele. Tawon odeng memiliki kadar racun mematikan; satu sengatan saja dapat berdampak serius hingga mengancam nyawa. Kondisi ini semakin mendesak karena sarang tersebut berada di lingkungan pendidikan yang setiap hari dipadati peserta didik. Belum lama ini, kawanan serangga berbisa itu bahkan telah melukai warga yang tidak sengaja mendekat, sehingga keberadaannya dianggap sebagai bom waktu yang harus segera dilumpuhkan.
Merespons laporan bahaya tersebut, Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Tasikmalaya, Agus Toni, S.I.P., segera mengerahkan pasukan andalan yang dipimpin oleh Iwan Setiawan, seorang Operator Pelayanan dengan rekam jejak pengalaman luas dalam penanganan serupa. Kecepatan dan ketanggapan ini menjadi bukti nyata pelayanan publik, meski di balik layar tersimpan kisah perjuangan yang berat dan penuh pengorbanan.
Usai menyelesaikan tugas berat itu dengan hasil memuaskan, Iwan Setiawan menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses evakuasi terdapat hal-hal yang kurang berkenan bagi warga sekitar. Ia menjelaskan bahwa penanganan harus dilakukan secara sangat hati-hati dan berpedoman pada prosedur ketat, mengingat sedikit saja kesalahan dapat memicu serangan massal kawanan tawon yang berakibat fatal.
Bacajuga:Pengakuan Seorang Ibu Anggota DPRD Tentang Makna Hari Kartini “
Namun, pengakuan jujur dari Iwan justru menyisakan keprihatinan mendalam. Di tengah risiko maut yang mengintai, ia mengungkapkan kondisi peralatan yang sangat memprihatinkan, bahkan jauh dari standar keselamatan kerja.
“Perlu masyarakat ketahui, dalam penanganan kali ini, saya dan rekan-rekan sama sekali tidak menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD yang layak. Sebagian besar perlengkapan pelindung yang tersimpan di gudang kami sudah usang, tua, rusak, dan tidak lagi memenuhi standar keamanan. Kami turun ke lokasi, menghadapi racun mematikan, dan bekerja di ketinggian hanya mengandalkan keahlian, pengalaman, serta keberanian semata, bukan perlindungan yang seharusnya menjadi hak kami. Risiko nyawa melayang ada di depan mata setiap kali kami bertugas, dan ini bukanlah kondisi yang wajar,” tegas Iwan dengan nada bergetar, menyiratkan betapa besarnya pengorbanan yang dipikul para petugas di lapangan.
Ia menambahkan, keterbatasan sarana dan prasarana ini bukanlah hal baru atau terjadi hanya saat menangani sarang tawon. Kondisi serupa selalu dirasakan saat bertugas mengevakuasi hewan liar berbisa seperti ular kobra, saat bertempur melahap si jago merah, maupun saat penanganan bencana lainnya. Padahal, amanah yang dipikul sangat besar: menyelamatkan nyawa manusia dan menjaga aset masyarakat agar terhindar dari kerugian.
“Harapan kami sangat sederhana namun menjadi syarat mutlak agar kami tetap bisa bekerja selamat. Kami mendesak adanya penambahan armada operasional yang layak dan kelengkapan alat sesuai standar, khususnya APD lengkap dan peralatan penerangan yang memadai. Sebab, sebagian besar penanganan berisiko tinggi justru kami lakukan pada malam hari demi keamanan warga. Tanpa perlengkapan yang memadai, berarti pemerintah mempertaruhkan nyawa petugas demi tugas negara. Ini adalah hal yang harus segera diperbaiki,” tambahnya dengan tegas.
Kondisi memprihatinkan ini mendapatkan sorotan tajam dan ketegasan dari Diki Samani, aktivis muda yang juga berprofesi sebagai Pimpinan Redaksi media daring Albadarpost.com. Ia menilai, pengabdian Damkar Tasikmalaya yang luar biasa ini tidak boleh dibalas dengan kelalaian fasilitas.
“Pemerintah daerah harus berhenti memandang Damkar hanya sebagai pendukung, tetapi mulai menempatkannya sebagai sektor pelayanan publik yang paling vital dan strategis. Beban kerja yang semakin hari semakin berat, tanpa diimbangi dukungan anggaran yang cukup, fasilitas yang layak, serta kesejahteraan yang pantas, secara perlahan namun pasti akan merusak kualitas pelayanan publik dan membahayakan keselamatan petugas maupun masyarakat yang ditolong,” ujar Diki dengan nada tegas.
Ia menegaskan, fungsi Damkar saat ini telah berkembang sangat luas dan krusial. “Damkar adalah garda terdepan penyelamatan masyarakat. Mereka hadir bukan hanya saat api membesar, tetapi juga ketika warga menghadapi ancaman apa pun, mulai dari evakuasi hewan berbisa, bantuan saat bencana, hingga keadaan darurat lainnya. Tugas mereka bukan sekadar memadamkan api, melainkan menyelamatkan nyawa. Jika lingkup tugasnya melebar dan semakin berat, maka perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan, perlindungan kerja, serta peningkatan kapasitas SDM-nya pun harus dinaikkan tingkatannya secara signifikan. Tidak ada lagi istilah ‘seadanya’ untuk urusan keselamatan nyawa,” tegasnya.
Lebih lanjut Diki menyoroti bahwa masyarakat sudah sangat bergantung pada layanan Damkar. “Masyarakat sudah menganggap Damkar sebagai penyelamat utama. Saat panik, saat ada bahaya, bahkan untuk urusan evakuasi sarang tawon di tengah malam, harapan satu-satunya tertuju pada Damkar. Ketika mereka bekerja di luar batas kemampuan fasilitas yang ada, itu adalah bentuk pengabdian yang luar biasa, namun pemerintah tidak boleh menjadikan hal itu sebagai kebiasaan atau alasan untuk tidak memperbaiki fasilitas. Dedikasi tinggi tidak boleh dimanfaatkan untuk menutupi kekurangan anggaran,” ujar Diki.
“Saya secara tegas menuntut Pemkab Tasikmalaya untuk segera bergerak nyata dan tidak lagi menutup mata terhadap keluhan ini. Apresiasi berupa ucapan terima kasih saja tidak cukup dan tidak akan melindungi tubuh petugas dari sengatan tawon atau kobaran api. Yang dibutuhkan adalah perhatian berupa kebijakan nyata: peningkatan kesejahteraan yang layak, penambahan jumlah tenaga agar tidak kelelahan bertugas, serta kelengkapan fasilitas operasional sesuai standar nasional. Jangan sampai pengabdian luar biasa ini berujung pada musibah karena kelalaian pemenuhan hak petugas. Hal ini sudah mendesak, sangat krusial, dan tidak bisa ditawar lagi,” tegas Diki menegaskan tuntutan tersebut.
Di sisi lain, rasa syukur dan apresiasi mendalam disampaikan langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Islam (YPI) KH Burhan, Ahmad Yani. Ia mengaku sangat lega dan berterima kasih atas keberhasilan tim Damkar melumpuhkan ancaman bahaya di lingkungan lembaga pendidikan yang diasuhnya.
Atas nama pribadi dan segenap warga yayasan, Ahmad Yani menyampaikan penghargaan tertinggi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya di bawah pimpinan Roni selaku pembina, serta Kepala UPTD Damkar Kabupaten Tasikmalaya, Agus Toni, S.I.P.
Bacajuga:SEKILAS DALEM TAMELA SUKAPURA *
Ucapan terima kasih juga ditujukan secara khusus kepada para petugas Penanganan Ketertiban Lingkungan UPTD Damkar dan seluruh pihak yang telah terlibat dalam operasi berisiko tinggi ini.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas respon cepat dan bantuan nyata yang diberikan dalam pembersihan sarang tawon odeng ini. Berkat kerja keras, keberanian, dan ketelitian Bapak-Bapak sekalian, rasa aman kini kembali kami rasakan sepenuhnya. Terutama bagi para peserta didik dan masyarakat yang beraktivitas di lingkungan YPI KH Burhan, kehadiran tim Damkar adalah jaminan keselamatan yang sangat berharga dan tak ternilai harganya. Semoga pengabdian tulus ini menjadi ladang pahala, dan semoga pemerintah semakin segera memperhatikan, memfasilitasi, serta memuliakan setiap jasa dan pengorbanan para pahlawan keselamatan ini,” pungkas Ahmad Yani dengan penuh haru dan rasa syukur yang mendalam.



