Lintaspasundannews.Kabupaten Tasikmalaya Sejarah dan Perkembangan Asal-usul: Kabuyutan Galunggung muncul sekitar abad ke-7 Masehi. Awalnya, wilayah ini merupakan tempat suci atau pusat kegiatan keagamaan yang dihuni oleh kaum agamawan Hindu-Buddha, yang disebut sebagai Dewasasana. Dalam struktur wilayah Kerajaan Sunda, Kabuyutan adalah area khusus untuk pemujaan dan doa, yang hanya dikelola oleh pendeta tertentu.
Menjadi Kerajaan: Seiring berjalannya waktu, Kabuyutan Galunggung berkembang menjadi Kerajaan Galunggung dengan pusat pemerintahan bernama Rumantak, yang terletak di sekitar kaki Gunung Galunggung. Kerajaan ini bercorak Hindu dan merupakan bawahan dari Kerajaan Galuh, namun memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama dalam hal keagamaan. Raja-raja Galuh baru dianggap sah memerintah jika mendapatkan persetujuan dari Batara atau sesepuh yang berkuasa di Galunggung.
Perubahan Nama: Setelah masa kejayaan Kerajaan Galunggung berakhir, wilayah ini mengalami beberapa kali perubahan nama. Mulai dari Sukakerta, kemudian menjadi Sukapura, dan akhirnya resmi bernama Tasikmalaya pada tahun 1913.
Peninggalan Sejarah
Prasasti Geger Hanjuang: Ditemukan di Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Prasasti ini mencatat penahbisan Batari Hyang sebagai Penguasa Galunggung pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 Masehi. Tanggal ini pernah dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya.
Bacajuga:Relaksasi Administratif atau Pelanggaran Prinsip Hukum? Polemik Surat Edaran Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Pertama “
Naskah Amanat Galunggung: Naskah ini memperkuat bukti sejarah bahwa Galunggung pernah menjadi pusat ajaran keagamaan dan pemerintahan pada masa lampau. Isinya berisi pesan-pesan moral dan peringatan kepada raja dan rakyat untuk menjaga kesucian tempat tersebut.
– Situs-situs Lain: Selain itu, terdapat juga indikasi struktur batu tegak (menhir) dan batu datar (dolmen) di sekitar wilayah tersebut, yang menunjukkan adanya permukiman dan kegiatan pemujaan pada masa purba.
Makna dan Simbolisme
Tempat Suci: Dalam kosmologi Sunda, gunung dianggap sebagai tempat yang dekat dengan alam suci. Oleh karena itu, Galunggung memiliki makna simbolis sebagai benteng alam yang memisahkan dunia profan dari dunia suci leluhur. Nama “Galunggung” sendiri dikaitkan dengan kata “galung” yang berarti parit atau pemisah, dan “ggung” yang berarti tinggi atau agung.
Pusat Peradaban: Meskipun belum dikukuhkan secara arkeologis sebagai pusat peradaban besar, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi tempat interaksi manusia purba yang intens dan menjadi basis perkembangan komunitas Sunda kuno.
Kabuyutan Galunggung merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Tasikmalaya. Peninggalan-peninggalannya menjadi saksi bisu akan kejayaan masa lampau dan memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat pada zaman dahulu.
( Red Ade S )



