Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(24/03/2026) ~ Dalam perspektif Badan Intelijen Strategis, tindakan ekstrem seperti dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS tidak pernah berdiri sebagai aksi spontan, melainkan—jika benar terjadi—masuk dalam pola operasi bayangan yang dalam literatur Ilmu Intelijen dikenal sebagai “covert intimidation”.
Para ahli seperti Mark M. Lowenthal menegaskan bahwa operasi intelijen gelap sering kali bertujuan menciptakan efek psikologis: membungkam, memberi pesan ancaman, dan merusak moral target tanpa harus memicu eskalasi terbuka. Dalam konteks ini, aktivis dianggap bukan sekadar individu, melainkan simbol perlawanan yang harus “dinetralisir pengaruhnya”.
Lebih jauh, pendekatan ala Sun Tzu—yang sering dikutip dalam doktrin intelijen modern—menyebut bahwa kemenangan terbaik adalah menghancurkan musuh tanpa perang terbuka. Maka, jika motif ditarik secara akademik, ada tiga kemungkinan keras:
~ pertama, deterrence (efek jera brutal terhadap jaringan aktivis);
~ kedua, deniability (operasi dibuat kabur agar rantai komando tak tersentuh); dan,
~ ketiga, internal rogue operation—yakni aksi oknum yang menyimpang namun memanfaatkan kultur kerahasiaan institusi.
Dalam bahasa ahli kontra-teror seperti Bruce Hoffman, pola ini bahkan bisa masuk kategori state-linked intimidation tactic ketika kekerasan digunakan untuk mengendalikan narasi publik
Namun yang paling berbahaya bukan hanya motifnya, melainkan pesan yang dikirim: bahwa ruang kritik bisa dilukai secara fisik.
Jika dugaan ini benar dan tidak diungkap secara transparan, maka negara berisiko jatuh pada praktik shadow governance—kekuasaan tak terlihat yang bekerja di luar akuntabilitas hukum. Di titik ini, publik tidak lagi berhadapan dengan pelaku, tetapi dengan sistem yang membiarkan ketakutan menjadi alat kontrol.
Kesimpulan:
Menurut Mark M. Lowenthal, dalam kerangka Ilmu Intelijen, tindakan kekerasan terselubung terhadap aktor sipil seperti aktivis KontraS—jika benar melibatkan elemen Badan Intelijen Strategis—paling mendekati pola plausible deniability operation, yakni operasi yang sengaja dirancang untuk memberi efek kejut dan intimidasi tanpa jejak komando yang mudah dibuktikan; motif utamanya bukan sekadar melukai individu, melainkan menciptakan pesan sistemik: membatasi ruang kritik, menanamkan ketakutan kolektif, dan menjaga stabilitas versi kekuasaan, sehingga kebenaran formal sering tertutup oleh kabut operasi itu sendiri.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
TINGGAL DI KAMPUNG TERPENCIL DARI DESA TERTINGGAL.
#MARKASBESARTENTARANASIONALINDONESIA,#MENTERIPERTAHANANKEAMANAN,#PANGLIMATNI,#PARAKEPALASTAFTNI,#MARKASBESARKEPOLISIANNEGARAREPUBLIKINDONESIA,#KAPOLRI,#KONTRAS,#PENGGIATHAKAZASIMANUSIA,#ANDRIEYUNUS,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD,#MASYARAKATINDONESIA



