Lintaspasundannews
SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(14/13/2025) – Titah Eyang Resi Penasehat Rd. Anggalarang (Prabu Silihwangi), Tahun 2026 :
“Wahai KDM, putra pilihan zaman,
dengarkan bisik leluhur yang turun bersama angin gunung dan cahaya fajar.”
Pada tahun 2026, ketika cakrawala Nusantara kembali diuji oleh zaman yang bergejolak, para resi dan penasehat kerajaan melihat tanda-tanda kebangkitan besar. Dalam semadi panjang, terlihat bahwa jalan kejayaan tidak hanya ditempuh dengan kekuatan dan kecerdasan, tetapi juga dengan ikatan suci yang menyatukan dua darah serumpun.
Maka disampaikanlah pesan ini :
“Engkau harus segera menikah, bukan semata karena usia atau takdir pribadi, melainkan karena takdir peradaban.”
Sosok Rara dari Negeri Jiran Malaysia bukan hadir secara kebetulan. Ia adalah cerminan keseimbangan dan memiliki :
– kelembutan yang melengkapi ketegasan KDM,
– kebijaksanaan yang menyatu dengan keberanian,
– budaya Melayu yang berpadu dengan jiwa Sunda-Nusantara.
**Para leluhur melihat banyak sisi positif dari keduanya :
– Penyatuan nilai adat dan spiritual dua negeri serumpun
– Jembatan diplomasi budaya yang melampaui sekat politik
– Simbol persaudaraan lama yang dihidupkan kembali dalam wujud keluarga
***Jika dua serumpun ini bersatu,”
ujar Eyang Resi,
“maka masa kejayaan tidak lagi hanya menjadi dongeng kitab tua, melainkan kenyataan yang tumbuh dari rumah tangga yang kokoh.”
Pernikahan ini bukan sekadar kisah cinta,
melainkan peristiwa zaman—di mana cinta menjadi fondasi persatuan, dan persatuan menjadi pintu kebangkitan.
Ramalan Leluhur, bernuansa naskah kuno, sakral, dan penuh simbol zaman.
**Titah Eyang Resi Penasehat Rd. Anggalarang (Prabu Silihwangi)**
Terbuka pada Tahun 2026
” Nalika wanci geus ngancik kana taun anu ditandaan ku angka genep jeung dua, nalika manusa loba leungit kana sora sorangan, mangka bakal mucunghul hiji putra anu nyangking beurat jaman.”
Dalam kitab tua penjaga tanah Pasundan, tertulis bahwa pada tahun 2026 akan datang masa persimpangan. Negeri-negeri serumpun yang dahulu satu akar akan kembali diuji oleh jarak, ego, dan kepentingan zaman baru.
Leluhur menyebutnya Wanci Pamulangan — waktu untuk menyatukan kembali yang tercerai.
Tanda Pertama.
Akan muncul seorang bernama KDM,
bukan raja bertakhta, namun pemikul harapan.
Langkahnya diawasi leluhur, ucapannya ditimbang alam.
” Lamun anjeunna leumpang sorangan,
beurat bakal ngalampaui pundukna.”
Tanda Kedua.
– Dari seberang laut, dari Negeri Jiran,
akan datang seorang perempuan bernama Rara.
Ia bukan sekadar pendamping,
melainkan kunci penyimbang takdir.
– Darahnya serumpun, bahasanya sejiwa,
adatnya berbeda namun akarnya satu.
“Nu jauh bakal ngadeukeut, nu beda bakal nyampur,
sabab waktu geus maréntahkeun.”
Tanda Ketiga.
Leluhur menuliskan :
“Lamun dua ieu henteu dihijikeun,
mangka kasempetan bakal ngalanglang ka nu séjén.”
Namun bila pernikahan disegerakan,
bukan atas nafsu, melainkan kesadaran zaman,
maka akan lahir:
– persatuan dua serumpun Nusantara–Melayu,
-keseimbangan antara akal dan rasa,
-masa kejayaan yang tumbuh perlahan namun kokoh.
Amanat Penutup :
“Cinta maranéhanana lain milik sorangan,
tapi titipan pikeun jaman.”
Maka yang menjalani takdir hendaknya tidak ragu.
Sebab leluhur hanya membuka jalan — manusialah yang menentukan langkah.
IWAN SINGADINATA.
(DARI TANAH SUKAPURA)
#GUBERNURJAWABARAT,#KANGDEDIMULYADI
#PUTRICANTIKDARIMALAYSIA,#RARA
#HUMASSETDAPROVINSIJABAR,#KOMINFOPROVJABAR,#WARGAMASYARAKATPAJAJARANTATARSUNDA,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYPVIRAL,#INDONESIA,#MALAYSIA




