Lintaspasundannews
SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(06/12/2025) – Fenomena mentang-mentang bukan hal baru dalam lanskap politik dan pemerintahan Indonesia. Namun belakangan, budaya ini kembali mengemuka dengan wujud yang semakin beragam—mulai dari tindakan pejabat daerah yang bersikap seolah wilayah adalah “kekuasaan pribadi”, hingga pejabat pusat yang mengambil keputusan strategis tanpa komunikasi yang memadai kepada publik. Di tengah dinamika kebijakan yang kompleks, justru perilaku mentang-mentang inilah yang menjadi benalu dalam kepemimpinan, menggerus kepercayaan rakyat dari bawah hingga ke atas.
Ketika Kepemimpinan Daerah Lupa Batas Perannya
Di tingkat daerah, publik sering kali menyaksikan pemimpin yang merasa memiliki wilayah dan perangkatnya. Fenomena ini muncul dalam berbagai bentuk:
Kebijakan yang diputuskan tanpa kajian publik yang memadai.
Aparatur daerah yang diarahkan bekerja untuk kepentingan pencitraan, bukan pelayanan.
Praktik intimidasi terhadap kritik masyarakat atau media lokal.
Penggunaan fasilitas negara secara berlebihan, sekadar untuk menunjukkan status.
Padahal, kepala daerah bukanlah raja kecil. Mereka dipilih untuk mengelola, bukan menguasai; untuk melayani, bukan dilayani. Ketika mentang-mentang dibiarkan hidup di daerah, masyarakat akan merasa jauh dan tak terwakili oleh pemimpinnya. Lebih parah lagi, budaya ini dapat menular ke lapisan birokrasi dan menciptakan rantai arogansi dari atas ke bawah.
Pemimpin Pusat dan Godaan Kekuasaan yang Lebih Besar
Jika di daerah mentang-mentang bisa muncul dalam bentuk kecil namun nyata, di tingkat pusat tantangannya jauh lebih besar karena kekuasaan dan dampaknya meluas secara nasional.
Fenomena yang kini terlihat antara lain:
Kebijakan strategis dikeluarkan tanpa partisipasi publik yang memadai.
Respons yang defensif saat dikritik oleh akademisi dan masyarakat sipil.
Penggunaan narasi keberhasilan untuk menutupi kegagalan implementasi di lapangan.
Sikap merasa “lebih tahu” hanya karena memiliki otoritas formal.
Ketika pemimpin pusat terjebak dalam budaya mentang-mentang, dampaknya bukan hanya pada persepsi publik, melainkan juga pada stabilitas politik dan efektivitas kebijakan. Masyarakat yang merasa diabaikan akan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, dan ini berbahaya untuk jangka panjang.
Introspeksi: Kebutuhan Mendesak di Semua Level Kepemimpinan
Baik pemimpin daerah maupun pusat sebenarnya menghadapi tantangan yang sama: bagaimana menjalankan kekuasaan tanpa kehilangan kerendahan hati.
Introspeksi menjadi penting karena:
1. Kekuasaan mudah menumpulkan empati.
Saat pemimpin selalu difasilitasi, dipuja, dan jarang dikritik secara langsung, mereka bisa lupa bagaimana rasanya menjadi warga biasa.
2. Jabatan rentan menumbuhkan ilusi kebenaran.
Pemimpin tanpa mekanisme koreksi akan merasa semua keputusannya tepat, meski faktanya tidak demikian.
3. Pelayanan publik hanya berjalan baik bila pemimpinnya sadar diri.
Pemerintahan bukan soal memamerkan kekuasaan, tetapi menata sistem yang menyentuh kehidupan masyarakat.
4. Daerah dan pusat saling memengaruhi.
Jika pusat arogan, daerah cenderung meniru. Jika daerah angkuh, pusat akan kesulitan menggerakkan reformasi.
Pemimpin yang Dibutuhkan: Rendah Hati, Responsif, dan Terbuka Kritik
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berwibawa, tetapi juga berjiwa pelayan. Pemimpin yang mau mendengar suara lemah, bukan hanya tepuk tangan; pemimpin yang mau berdialog, bukan monolog; pemimpin yang berani mengakui kesalahan, bukan menutupi dengan retorika.
Di era ketika masyarakat semakin kritis, mentang-mentang bukan hanya tidak relevan—tetapi berbahaya.
Penutup: Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Legitimasi untuk Arogan
Kembalinya budaya mentang-mentang harus menjadi peringatan bagi seluruh pemimpin, baik di daerah maupun pusat. Ini adalah saat yang tepat untuk menatap cermin dan bertanya:
Apakah saya masih menjadi pelayan masyarakat?
Apakah saya masih mampu mendengar kritik?
Apakah saya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan publik atau sekadar menunjukan kekuasaan?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas itu menentukan masa depan kepemimpinan negeri ini.
***Pada akhirnya, pemimpin yang dihormati bukanlah yang menuntut penghormatan, tetapi yang menginspirasi. Dan inspirasi hanya lahir dari kerendahan hati, bukan dari budaya mentang-mentang.
IWAN SUNGADINATA
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#PRESIDENREPYBLIKINDONESIA,#HPRABOWOSUBIANTO,#WAKILPRESIDENREPUBLIKINDONESIA,#GIBRANRAKABUMINGRAKA,#PARANENTERIKABINETINDONESIAMAJU,#PARAGUBERNURSELURUHINDONESIA,#PARABUPATIDABWALIKOTASELURUHINDONESIA,#PUBLIK,#SOROTANTAJAM,#SEMUAORANG,#FYPVIRAL,#INDONESIATOPOFTHEWORLD



