Oleh: Wahid MA — Editor, lintaspasundannews.com
Tasikmalaya, 6 Oktober 2026 — Di tengah hiruk-pikuk dinamika pemerintahan desa yang kerap kali terpusat pada urusan administrasi dan pencapaian target, hadir sebuah ketenangan yang sungguh menyejukkan: sebuah kepemimpinan yang tak sekadar mengurus urusan duniawi, melainkan juga senantiasa menumbuhkan keindahan dan kesucian jiwa. Inilah yang terasa nyata dan hidup di jantung Desa Tawang Banteng, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya.
Setiap Selasa pagi, sebelum deretan pekerjaan mengurai, seluruh jajaran perangkat desa berdiri dalam barisan yang tegap namun rendah hati. Ini bukan sekadar upacara rutin yang berulang. Ini adalah pernyataan tulus: bahwa pelayanan publik yang luhur bermula dari kesiapan diri yang bersih, niat yang lurus, dan tekad yang menyatu sepenuhnya. Di barisan paling depan berdiri sosok yang menjadi jiwa dan teladan dari semangat ini — Iwan Roslan Effendi, S.Pd., M.Si., Penjabat Sementara Kepala Desa Tawang Banteng.
Beliau tidak sekadar memimpin jalannya upacara. Beliau menanamkan makna di setiap arahan yang disampaikan. Tidak ada sekadar perintah prosedural. Yang terpancar adalah pengingat mendalam tentang hakikat sejati menjadi pelayan masyarakat: bagaimana berbicara dengan lembut namun tegas, bagaimana mengangkat beban warga di pundak sendiri, dan bagaimana menjaga setiap titipan amanah agar tidak menjadi beban di hari pertanggungjawaban kelak.
Ketika barisan dibubarkan, semangat kebersamaan tidak luntur begitu saja. Ruang kantor yang tadinya tegap berubah menjadi lingkaran kehangatan dan keberkahan. Lantunan ayat suci menggema, menenangkan hati, mengingatkan kembali bahwa segala kekuasaan di tangan manusia hanyalah pinjaman dari Pemilik Langit. Tadarus dan tausiyah yang menyusul bukan sekadar tambahan kegiatan — melainkan jantung dari kepemimpinan yang dijalani: memimpin dengan iman, mengabdi dengan ketakwaan.
Di ruang kerjanya yang sederhana namun memancarkan ketenangan, Iwan Roslan Effendi membuka hatinya:
“Apa yang saya lakukan ini bukanlah rutinitas yang saya paksakan. Setiap langkah yang saya ambil, setiap arahan yang saya sampaikan, saya niatkan sebagai warisan. Menjadi Penjabat Sementara Kepala Desa bukan berarti sekadar mengisi kekosongan. Ia adalah kesempatan berharga untuk mewariskan sesuatu yang jauh lebih abadi daripada bangunan fisik: nilai-nilai keadilan, ketulusan, kejujuran, dan akidah yang kokoh.
Saya ingin rekan-rekan perangkat yang bekerja bersama saya memahami makna sejati: Tawang Banteng Mentereng bukan berarti tampil gagah atau bersinar karena kemewahan. Ia bersinar karena keteladanan. Bersinar karena pelayanan yang tulus, karena kepedulian yang sampai ke setiap rumah warga, karena iman yang menjadi fondasi setiap keputusan. Saya ingin meninggalkan bukan sekadar laporan di atas kertas, melainkan insan-insan yang mengerti makna mengabdi — yang kelak akan meneruskan cahaya ini meski saya telah tidak lagi berada di tempat ini.”
Penyatuan kedisiplinan administrasi negara dengan pembinaan kerohanian seperti ini sungguh istimewa dan jarang ditemui. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan yang sejati adalah keseimbangan yang harmonis: mampu mengelola urusan rakyat dengan jujur sekaligus menjaga hati masyarakat dengan kasih. Bagi warga Tawang Banteng, kehadiran Iwan Roslan Effendi adalah bukti nyata: bahwa di tangan pemimpin yang takut kepada Tuhan, pelayanan menjadi berkah, dan desa pun benar-benar mentereng — selaras dgn slogannya



