TASIKMALAYA.Lintaspasundannews,.(7/10/2026) ~ Hari Keanekaragaman Geologi Internasional atau
Peringatan International Geodiversity Day, seharusnya tidak berhenti sebagai agenda pengetahuan di tingkat global. Bagi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, peringatan ini dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kekayaan alam yang selama ini berada begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari dan sangat Penting Mengenal Tanah Air Sendiri
Tasikmalaya bukan hanya wilayah administratif dengan hamparan permukiman dan lahan pertanian. Di balik bentang alamnya terdapat gunung, perbukitan, lembah, sungai, tanah, batuan, mata air hingga kawasan pesisir yang terbentuk melalui proses geologi dalam waktu yang sangat panjang.
▪︎Semua itu merupakan bagian dari geodiversitas.
▪︎Bumi yang Membentuk Kehidupan Masyarakat.
Geodiversitas pada dasarnya menggambarkan keragaman unsur dan proses geologi bumi, mulai dari batuan, mineral, tanah, fosil, bentang alam hingga proses yang membentuk permukaan bumi.
Bagi masyarakat Tasikmalaya, pengetahuan tersebut memiliki arti praktis.
Kesuburan tanah menentukan kehidupan pertanian. Sungai menjadi bagian dari sistem air dan irigasi. Mata air menopang kebutuhan masyarakat. Perbukitan dan bentang alam mempunyai potensi wisata. Sementara kondisi geologi tertentu juga berkaitan dengan potensi longsor, erosi, gempa dan berbagai risiko lingkungan lainnya.
Dengan demikian, geologi bukan sekadar urusan para ahli atau bahan pelajaran di sekolah. Ia berhubungan langsung dengan ruang hidup masyarakat.
~Jangan Sampai Kekayaan Alam Hanya Dilihat sebagai Komoditas.
~Persoalan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kekayaan geologi tersebut dimanfaatkan.
Pembangunan memang membutuhkan tanah, batuan, air dan berbagai sumber daya alam. Namun pemanfaatannya perlu memperhitungkan karakter serta daya dukung lingkungan.
Bukit yang dipotong, sungai yang berubah, mata air yang terganggu atau kawasan tertentu yang dieksploitasi tanpa kajian memadai bukan hanya mengubah pemandangan. Dalam jangka panjang, perubahan tersebut dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, pembangunan daerah semestinya tidak hanya bertanya berapa nilai ekonominya, tetapi juga bertanya apa nilai ekologis dan geologisnya bagi generasi mendatang.
*Tasikmalaya Perlu Memiliki Kesadaran Geologi.
Hari Keanekaragaman Geologi Internasional dapat menjadi pintu masuk bagi pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan dan masyarakat untuk memperkenalkan geodiversitas lokal.
Anak-anak sekolah, misalnya, dapat diajak mengenal sungai dan bentang alam di sekitar mereka bukan sekadar sebagai objek wisata, tetapi sebagai bagian dari sejarah pembentukan bumi.
Masyarakat juga perlu memahami mengapa suatu kawasan memiliki tanah yang subur, mengapa daerah tertentu memiliki mata air, mengapa wilayah tertentu rawan longsor, serta bagaimana aktivitas manusia dapat memperbesar atau mengurangi risiko tersebut.
Pengetahuan semacam ini pada akhirnya dapat memperkuat budaya menjaga lingkungan.
Dari Geodiversitas Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Kabupaten Tasikmalaya memiliki bentang alam yang beragam. Keragaman tersebut merupakan modal yang dapat mendukung pertanian, pendidikan, penelitian, konservasi dan pariwisata berbasis alam.
Namun modal tersebut harus dikelola dengan pengetahuan.
Pemerintah daerah dapat mendorong inventarisasi geosite atau lokasi yang memiliki nilai geologi dan bentang alam penting. Sekolah dapat menjadikannya sebagai laboratorium alam. Masyarakat dapat dilibatkan dalam menjaga kawasan. Sementara pengembangan pariwisata dapat diarahkan agar tidak merusak objek yang justru menjadi daya tariknya.
Dengan cara itu, geodiversitas tidak hanya menjadi istilah ilmiah, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah.
Catatan Pengetahuan.
International Geodiversity Day pada akhirnya mengajarkan sebuah hal sederhana: bumi yang kita pijak memiliki sejarah dan nilai yang jauh lebih besar daripada yang terlihat oleh mata.
Masyarakat Tasikmalaya tidak harus pergi jauh untuk mempelajari geodiversitas. Cukup mulai dengan memperhatikan tanah tempat berpijak, sungai yang mengalir, bukit yang terlihat dari kejauhan, mata air yang memenuhi kebutuhan warga, hingga batuan yang selama ini dianggap biasa.
Sebab, menjaga lingkungan tidak mungkin dilakukan secara utuh apabila manusia tidak terlebih dahulu mengenal apa yang sedang dijaganya.
Dan mungkin sudah waktunya Tasikmalaya tidak hanya bertanya apa yang dapat diambil dari alam, tetapi juga apa yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
(IWAN SINGADINATA/ERVAN PRADESA)
TAG (#)
#BUPATITASIKMALAYA #WAKILBUPATI #SEKDA #DPUPRTLH #DISHUBKOMINFO #HUMASDOKPIMSETDA #WARGATASIK #PUBLIK #SEMUAORANG #FYP #VIRAL



