Tasikmalaya, Lintaspasundan-news – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Tasikmalaya kembali digelar sebagai bagian dari upaya merevitalisasi dan melestarikan bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda, di kalangan pelajar sekolah dasar.
Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung PGRI Kabupaten Tasikmalaya tersebut menjadi bagian dari program revitalisasi bahasa ibu. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa, tetapi sebelumnya juga memberikan pembekalan kepada para guru agar memiliki kemampuan untuk menularkan keterampilan berbahasa Sunda kepada peserta didik.
Ketua Pelaksana FTBI Kabupaten Tasikmalaya, Hilman Budi Nugraha, S.Pd., mengatakan, program revitalisasi bahasa ibu pada awalnya lebih banyak menyasar para guru. Namun, melalui Festival Tunas Bahasa Ibu, kini para siswa diberikan ruang untuk tampil dan menunjukkan kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa serta budaya Sunda.

Menurutnya, FTBI bukan sekadar ajang perlombaan bagi siswa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa dan budaya daerah.
“Tujuan FTBI ini bukan hanya melombakan siswa, tetapi bagaimana caranya siswa sekolah dasar mencintai budayanya.
Secara tidak langsung mereka bisa mendongeng menggunakan bahasa Sunda, nembang pupuh, membaca sajak, menulis aksara Sunda, menulis carpon, hingga menggunakan bahasa daerah dalam berbagai kegiatan,” ujar Hilman.
Ia menambahkan, melalui kegiatan tersebut siswa diharapkan minimal memahami dan mampu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai cabang kegiatan yang ditampilkan antara lain biantara, borangan, maca sajak, menulis aksara Sunda, menulis carpon serta berbagai keterampilan berbahasa dan bersastra Sunda lainnya.
“Revitalisasi bahasa ibu ini awalnya gurunya yang diberikan pembekalan, sekarang muridnya yang tampil di FTBI.
Jadi ada proses dari guru kemudian ditularkan kepada anak didiknya,” jelasnya.
Hilman menyebutkan, FTBI Kabupaten Tasikmalaya telah berjalan sekitar lima tahun dan penyelenggaraan festivalnya kini memasuki tahun keempat.
Menurutnya, hasil dari program tersebut mulai terlihat. Salah satunya dari keberanian siswa menggunakan bahasa Sunda yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin jarang digunakan di kalangan anak-anak.
“Alhamdulillah, FTBI sudah lima tahun berjalan dan sudah keempat kalinya dilaksanakan. Hasilnya sudah mulai kelihatan ketika siswa bisa berbicara menggunakan bahasa daerah, bahasa Sunda, yang hampir hilang di kalangan anak-anak,” katanya.
Kegiatan tersebut juga melibatkan jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kasi Sarana dan Prasarana (Sapras), serta staf Dinas Pendidikan.
Sementara itu, tim juri berasal dari KKG Bahasa Sunda dari sejumlah daerah, yakni Garut, Banjar, Sumedang dan Tasikmalaya.
Untuk tingkat Provinsi Jawa Barat, kegiatan FTBI rencananya akan dilaksanakan pada November 2026.
Hilman berharap kegiatan revitalisasi bahasa ibu dan FTBI dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang sehingga keberadaan bahasa Sunda tetap terjaga dan semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Harapannya tahun depan kegiatan ini tetap dilaksanakan. Karena sudah terlihat hasilnya, ketika siswa bisa berbicara menggunakan bahasa daerah. Mudah-mudahan bahasa Sunda tetap hidup dan terus digunakan oleh generasi berikutnya,” pungkasnya.
*Har



