Lintaspasundannews.Aku pernah bangga berjalan di sisinya.
Bukan karena jabatannya, bukan karena namanya dikenal orang, tapi karena dulu—sebelum semua itu—ia adalah lelaki yang pulang tepat waktu dan mendengarkan ceritaku, bahkan yang paling sepele.
Saat ia dipercaya memimpin rakyat Jawa Barat, aku berdiri paling depan mendukungnya. Aku belajar tersenyum di tengah lelah, belajar menunggu di rumah saat ia harus pergi, dan belajar memendam rindu demi sesuatu yang katanya “lebih besar”.
Awalnya aku mengerti.
Lalu aku terbiasa.
Dan tanpa kusadari, aku mulai sendirian.
Rumah kami tetap utuh, tapi isinya kosong. Aku berbicara, ia mengangguk. Aku bertanya, ia menjawab seperlunya. Setiap malam aku menunggu suara langkahnya, bukan untuk dimanja, hanya ingin merasa masih dianggap ada.
Ia tak pernah kasar..
Ia tak pernah selingkuh—setidaknya bukan secara jasmani.
Tapi ia pergi perlahan, meninggalkanku dalam kesunyian yang panjang.
Bacajuga:Aku Diurut Pemijat Sexy-Emagnya Kang Iwan Suka Diiii. Uruttt..Oh Tentu Suka Bingit Rit.Oh “
Yang paling menyakitkan adalah saat aku menyadari:
ia mampu mendengar keluhan rakyat berjam-jam, namun tak sanggup mendengar keluhanku lima menit saja.
Aku berjuang sendirian menyelamatkan rumah tangga kami. Mengingatkan dengan lembut, menangis dalam diam, bahkan menyalahkan diriku sendiri. Mungkin aku kurang sabar. Mungkin aku terlalu menuntut.
Sampai suatu hari aku lelah berharap.
Keputusan menggugat cerai bukan lahir dari amarah, tapi dari keheningan yang terlalu lama. Aku menandatangani berkas itu dengan tangan gemetar—bukan karena ragu, tapi karena tahu aku sedang melepaskan seseorang yang dulu sangat kucintai.
Di ruang sidang, aku tak melihat pemimpin besar.
Aku hanya melihat lelaki yang pernah berjanji akan menjagaku.
Saat hakim menyatakan gugatan cerai dikabulkan, aku menangis—bukan karena sedih semata, tapi karena akhirnya aku berani memilih diriku sendiri.
Aku tahu banyak orang akan menyalahkanku.
Menganggapku tak setia, tak kuat mendampingi lelaki besar.
Padahal yang mereka tak tahu: aku terlalu lama setia, sampai lupa caranya bahagia.
Kini aku belajar hidup tanpa bayang-bayang namanya. Belajar tertawa tanpa menunggu. Belajar pulang tanpa berharap disambut.
Dan jika suatu hari ia bertanya, “Apa aku gagal sebagai suami?”
Jawabanku sederhana.
“Tidak. Kita hanya kalah oleh waktu dan ambisi.”
MALAM.BERNAUNG DI-TUGU LAM ALIF SINGAPARNA(01/01/2026)
IWAN SINGADINATA.(SWJ)
#PUBLIK,#FYPVIRAL



