Lintaspasundannews.Ia pernah berdiri di podium-podium megah, dielu-elukan sebagai pemimpin rakyat Jawa Barat. Suaranya tegas, langkahnya pasti, dan namanya kerap disebut sebagai simbol harapan. Di mata publik, hidupnya nyaris sempurna: kekuasaan, pengaruh, dan kepercayaan jutaan orang.
Namun tak banyak yang tahu, di balik jas rapi dan senyum diplomatis itu, rumah tangganya perlahan runtuh.
Kesibukan memimpin daerah, rapat tanpa akhir, dan tekanan politik yang tak pernah tidur membuat jarak tumbuh di antara ia dan istrinya. Percakapan berubah singkat, tatapan menjadi dingin. Rumah yang dulu hangat menjelma sekadar tempat singgah.
Ketika masa jabatannya berakhir, sorak sorai rakyat pun mereda. Ia kembali menjadi manusia biasa—tanpa pengawalan, tanpa tepuk tangan. Justru di saat itulah pukulan terberat datang: gugatan cerai dari sang istri.
Di ruang sidang yang sunyi, tak ada massa pendukung, tak ada staf ahli. Hanya ia, istrinya, dan kenyataan yang tak bisa lagi ditawar. Hakim membacakan putusan dengan suara datar: gugatan cerai dikabulkan.
Saat palu diketuk, seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dadanya. Ia pernah kalah dalam debat politik, pernah diserang lawan, tetapi tak satu pun sesakit kehilangan orang yang dulu menemaninya sejak belum menjadi siapa-siapa.
Ironisnya, ia mampu mengurus jutaan rakyat, namun gagal menjaga satu hati.
Kini hari-harinya diisi keheningan. Foto-foto lama masih tersimpan rapi—kenangan saat cinta lebih kuat dari ambisi. Ia belajar menerima bahwa kekuasaan tak selalu sejalan dengan kebahagiaan, dan jabatan tak pernah menjamin keutuhan keluarga.
Dari kisahnya, tersisa satu pelajaran pahit:
sebesar apa pun seseorang di mata publik, ia tetap rapuh di hadapan kehilangan
.MALAM.BERNAUNG DI-TUGU LAM ALIF SINGAPARNA(02/01/2026)
IWAN SINGADINATA.(SWJ)
#PUBLIK,#FYPVIRAL



