Lintaspasundannews.SINGAPARNA.KABUPATEN TASIKMALAYA.(21/12/2025) ~ Nabi Isa a.s. merupakan salah satu nabi ulul azmi yang memiliki posisi sentral dalam Islam. Salah satu aspek teologis terpenting dalam kisah beliau adalah kelahiran tanpa ayah biologis, yang dalam Islam dipahami sebagai mukjizat ilahi dan penegasan tauhid. Tulisan ini membahas pandangan Al-Qur’an, ulama tafsir arus utama, serta pendekatan tafsir kontekstual Prof. Dr. KH. Buya Syakur Yasin.
Kelahiran Nabi Isa a.s. dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an menegaskan kelahiran Nabi Isa a.s. dari Maryam binti Imran tanpa keterlibatan ayah biologis (QS. Ali Imran [3]: 45–47; QS. Maryam [19]: 16–21). Maryam mempertanyakan kemungkinan kehamilan tanpa sentuhan laki-laki, dan Allah menjawab bahwa penciptaan tersebut terjadi semata karena kehendak-Nya (kun fayakun).’
Peristiwa ini disebut sebagai āyah (tanda) bagi manusia, bukan sebagai legitimasi ketuhanan Isa, melainkan sebagai bukti kekuasaan Allah atas hukum alam.²
Pandangan Ulama Islam Arus Utama
Ulama tafsir klasik seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Fakhruddin ar-Razi sepakat bahwa kelahiran Isa tanpa ayah adalah mukjizat nyata. Ibnu Katsir menempatkan penciptaan Isa dalam kerangka variasi penciptaan manusia (Adam tanpa ayah-ibu; Hawa tanpa ibu; Isa tanpa ayah).³
Ar-Razi menegaskan bahwa mukjizat ini membantah pandangan yang membatasi kekuasaan Tuhan pada sebab-akibat biologis, sekaligus menolak konsepsi anak Tuhan.⁴
Pendekatan Tafsir Prof. Dr. KH. Buya Syakur Yasin.
Buya Syakur Yasin dikenal dengan tafsir rasional-kontekstual yang tetap setia pada teks Al-Qur’an. Pertama, beliau menerima secara tegas fakta kelahiran Nabi Isa tanpa ayah sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an. Kedua, ia menolak penafsiran yang menjadikan mukjizat kelahiran sebagai dasar ketuhanan Isa; justru, menurutnya, kisah ini menegaskan kemurnian tauhid.
Ketiga, Buya Syakur menekankan dimensi etik dan sosial misi Isa: kritik terhadap kemunafikan agama, keberpihakan pada kaum tertindas, dan pembebasan manusia dari penindasan struktural. Mukjizat kelahiran dipahami sebagai simbol bahwa perubahan besar dapat hadir melampaui batas-batas sosial dan biologis.⁵
Implikasi Teologis dan Etis.
Secara teologis, kelahiran Nabi Isa a.s. tanpa ayah menegaskan kemahakuasaan Allah dan menolak atribusi ketuhanan pada makhluk. Secara etis, kisah ini mendorong umat untuk meneladani misi kenabian Isa: keadilan, kasih sayang, dan kritik terhadap formalisme agama. Pendekatan Buya Syakur memperluas pemahaman ini ke ranah praksis sosial.
Kesimpulan.
Doktrin kelahiran Nabi Isa a.s. tanpa ayah merupakan ajaran yang kokoh dalam Islam. Ulama arus utama dan Buya Syakur Yasin sepakat bahwa peristiwa ini adalah mukjizat ilahi yang menegaskan tauhid
Perbedaannya terletak pada penekanan: Buya Syakur mengajak pembaca melampaui keajaiban biologis menuju pesan etik dan pembebasan sosial yang dibawa Nabi Isa a.s.
Catatan Kaki :
1. Al-Qur’an, QS. Ali Imran [3]: 47; QS. Maryam [19]: 20–21.
2. Al-Qur’an, QS. Maryam [19]: 21.
3. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Ali Imran: 59.
4. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, tafsir QS. Ali Imran: 59.
5. Buya Syakur Yasin, ceramah dan kajian tafsir tematik tentang Nabi Isa a.s. (berbagai sumber pengajian).
Daftar Pustaka :
• Al-Qur’an al-Karim.
• Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Fikr.
• Al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah.
• Ar-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.
• Yasin, Syakur. Materi Tafsir dan Ceramah Keislaman (transkrip dan rekaman pengajian).
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH).
#NASIOANAL,#INTERNASIONAL,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD,#FYPVIRAL,#MASYARAKATDUNIA,#BERITATAHUN2025



