Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Lintaspasundan-news – Kebahagiaan dan rasa syukur dirasakan Sonson Rison dan sang istri, Ade Mulyati, setelah putra mereka, Ariq Rison, S.Ak, berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Akuntansi di Universitas Perjuangan Tasikmalaya.
Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan kisah sederhana namun penuh makna dari kedua orang tua Ariq. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu memberikan warisan berupa harta benda kepada sang anak.
Namun, mereka memilih memberikan sesuatu yang dianggap jauh lebih berharga, yakni kesempatan untuk menempuh pendidikan hingga cita-citanya tercapai.
“Sebagai orang tua, kami tidak bisa membahagiakan anak dengan memberikan warisan apa-apa. Kami orang yang kurang, dalam artian tidak serba berkecukupan secara ekonomi.
Tapi kami sebagai orang tua hanya bisa mewariskan anak untuk sekolah sampai cita-citanya tercapai. Cuma itu warisan dari orang tua,” ungkapnya.
Bagi Sonson Rison dan Ade Mulyati, pendidikan menjadi bentuk warisan yang mereka perjuangkan untuk anak.
Meski dengan segala keterbatasan, keduanya berusaha memberikan dukungan agar Ariq dapat menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kini, perjuangan tersebut berbuah kebanggaan.
Ariq berhasil menyandang gelar Sarjana Akuntansi (S.Ak) dan menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan dan cita-cita.
Momen kelulusan Ariq pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
Senyum dan kebanggaan kedua orang tua menjadi gambaran bahwa warisan tidak selalu berbentuk harta, tetapi juga dapat berupa ilmu, pendidikan, doa, dan perjuangan orang tua untuk masa depan anaknya.
Bagi keluarga Ariq, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan hasil dari sebuah pesan sederhana: jika tidak mampu mewariskan harta, wariskanlah pendidikan agar anak memiliki bekal untuk menentukan masa depannya sendiri.
*Aris



