TASIKMALAYA.Lintaspasumdannews.(29/9/2026) ~ 29 September: Hari Sarjana Nasional. Momentum ini semestinya tidak berhenti pada seremoni, ucapan selamat, atau kebanggaan seseorang karena telah menyandang gelar akademik. Lebih jauh dari itu, Hari Sarjana seharusnya menjadi ruang refleksi: sejauh mana ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi benar-benar kembali kepada masyarakat?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika melihat kondisi daerah, termasuk Kabupaten Tasikmalaya. Data pemerintah daerah dalam RKPD 2026 menunjukkan bahwa penduduk dengan pendidikan perguruan tinggi masih relatif kecil, yakni sekitar 2,32 persen dari penduduk berdasarkan jenjang pendidikan.
Angka tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa sarjana masih merupakan kelompok yang memiliki posisi strategis dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia daerah. Karena itu, gelar akademik semestinya membawa konsekuensi sosial: semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.
Sarjana Bukan Sekadar Gelar
Dalam perspektif akademik, perguruan tinggi mengenal konsep Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Artinya, ilmu pengetahuan tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah, perpustakaan, skripsi, tesis, disertasi, atau lembar ijazah.
Ilmu harus menemukan bentuk konkretnya dalam kehidupan masyarakat.
Kabupaten Tasikmalaya sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk itu. Pemerintah daerah bahkan telah membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi.
Pada 2026, misalnya, delapan perguruan tinggi di wilayah Priangan Timur menjalankan KKN Tematik dengan fokus antara lain pada pengelolaan lingkungan dan penguatan ekonomi sirkular. Program tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu mahasiswa dapat dipertemukan dengan persoalan konkret masyarakat.
Namun, persoalannya tidak cukup berhenti pada KKN.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: setelah memperoleh gelar sarjana, ke mana ilmu tersebut dibawa?
Apakah menjadi energi untuk membangun desa, membantu UMKM, mendampingi petani, mengembangkan teknologi tepat guna, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat pendidikan masyarakat, melakukan riset kebijakan, atau justru berhenti sebagai simbol prestise pribadi?
Prestise atau Kontribusi?
Tidak salah seseorang bangga menyandang gelar sarjana. Pendidikan tinggi memang merupakan pencapaian personal yang patut dihargai.
Tetapi dalam masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan sosial dan pembangunan, gelar akademik idealnya tidak hanya menjadi status sosial, melainkan juga modal intelektual untuk menyelesaikan persoalan publik.
Seorang sarjana pertanian, misalnya, dapat memberikan pengetahuan baru kepada petani. Sarjana ekonomi dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha. Sarjana hukum dapat meningkatkan kesadaran hukum. Sarjana pendidikan dapat memperkuat literasi. Sarjana teknologi dapat membantu digitalisasi usaha masyarakat. Sarjana kesehatan dapat memperkuat edukasi preventif.
Begitu pula sarjana ilmu pemerintahan, administrasi publik, komunikasi, sosial maupun bidang lainnya. Masing-masing memiliki ruang pengabdian yang luas.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata terletak pada gelar di belakang nama, jabatan yang diperoleh, atau posisi sosial yang ditempati, tetapi juga pada seberapa jauh kompetensinya menghasilkan manfaat.
Kabupaten Tasikmalaya Membutuhkan Sarjana yang Turun ke Masyarakat
Kabupaten Tasikmalaya masih memiliki pekerjaan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia. Dokumen pemerintah daerah mencatat bahwa akses pendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah; Angka Partisipasi Murni perguruan tinggi dalam data yang dicantumkan mencapai 9,11 persen.
Karena itu, keberadaan sarjana di tengah masyarakat semestinya menjadi kekuatan pembangunan.
Program Satu Desa Satu Sarjana (SADESSA) yang didorong Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi ditempatkan sebagai salah satu instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia daerah.
Tetapi program tersebut akan jauh lebih bermakna apabila para sarjana yang lahir dari daerah kemudian benar-benar kembali menjadi bagian dari solusi masyarakat.
Bukan hanya datang ketika ada kegiatan seremonial.
Bukan hanya hadir ketika memperoleh undangan.
Dan bukan pula sekadar mencantumkan gelar akademik pada kartu nama.
Saatnya Mengukur Dampak
Hari Sarjana Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap lulusan perguruan tinggi.
Pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak sarjana yang kita miliki?”
Melainkan:
“Berapa banyak persoalan masyarakat yang berhasil dibantu penyelesaiannya oleh para sarjana?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Bacajuga:MANGGALA GARUDA PUTIH KAB.TASIKMALAYA,HADIRI MILANGKALA PADEPOKAN PANGLIPUR SADULUR KOTA TASIKMALAYA
Sebab pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan orang yang berpendidikan tinggi, tetapi membutuhkan orang berpendidikan tinggi yang mau menggunakan pengetahuannya untuk kepentingan masyarakat.
Ilmu yang tidak pernah keluar dari ruang akademik hanya menjadi pengetahuan pribadi. Sebaliknya, ilmu yang diterapkan, dibagikan, diuji di lapangan dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat dapat menjadi kekuatan perubahan.
Catatan Kecil
Gelar sarjana adalah pencapaian akademik. Tetapi pengabdian adalah pembuktian sosialnya.
Di Kabupaten Tasikmalaya, masyarakat tentu tidak membutuhkan sarjana hanya untuk memperpanjang daftar orang bergelar. Masyarakat membutuhkan sarjana yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, pendampingan dan solusi.
Pada akhirnya, prestise berhenti pada diri sendiri, sedangkan ilmu yang diamalkan akan hidup di tengah masyarakat.
Itulah barangkali makna paling substantif dari Hari Sarjana Nasional: bukan sekadar merayakan orang-orang yang telah memperoleh gelar, tetapi mempertanyakan apa yang telah mereka berikan setelah gelar itu melekat pada namanya.
(IWAN SINGADINATA/ERVAN PRADESA).
TAG (#)
#SARJANA #MASYARAKATKABUPATEN #PUBLIK #SEMUAORANG #SOROTAN #FYP #VIRAL #INDONESIANTOPOFTHEWORLD



