Oleh wahid MA korwil lintaspasundannews.com
TASIKMALAYA – Di pinggiran jalan menuju kawasan wisata Cipanas Galunggung, berdiri sebuah warung sederhana yang tampak biasa saja. Berada tepat di luar batas kawasan objek wisata tersebut, warung milik Ibu Shita ini memiliki suasana yang berubah-ubah: pada hari biasa terkadang sepi pengunjung, namun di waktu lain terlihat ramai dikunjungi orang. Keistimewaan tempat ini justru terlihat jelas saat akhir pekan tiba, tepatnya pada hari Sabtu dan Minggu.
Di hari libur itulah, warung kecil ini berubah menjadi tempat yang semakin hidup dan bermakna. Bukan hanya wisatawan yang singgah, tempat ini rutin dipadati oleh sejumlah awak media yang sengaja meluangkan waktu untuk beristirahat dan berbincang. Hampir setiap akhir pekan, warung ini seolah beralih fungsi menjadi ruang diskusi terbuka, tempat berbagi cerita, hingga titik temu bagi para pekerja jurnalistik dari berbagai latar belakang media, baik cetak maupun daring.
Warung milik Ibu Shita ini kini dikenal luas sebagai tempat berkumpulnya insan pers. Keberadaannya menjadi daya tarik tersendiri sekaligus ruang pertemuan yang hangat bagi para jurnalis yang bertugas meliput berbagai peristiwa di wilayah Galunggung dan sekitarnya.
Salah satu sosok yang tak pernah absen berkunjung adalah Kang Andri, wartawan senior dari Nuansa Post yang tergabung dalam kelompok Lintas Pena. Dengan nada bicara yang akrab, Andri menceritakan kebiasaan rutinnya mendatangi tempat ini.
“Saya kalau hari Sabtu maupun Minggu selalu berkunjung ke sini. Mengingat jadwal peliputan resmi ke dinas-dinas pemerintahan berlibur di hari tersebut, maka sudah pasti saya berada di tempat ini. Selain melepas lelah, di sini juga sering muncul berbagai informasi menarik,” ungkap Andri.
Bukan hanya wartawan pelaksana, para pemimpin redaksi pun tampak menjadikan tempat ini sebagai persinggahan favorit. Terlihat Kang Ade, ridwan suryanto Pemimpin Redaksi Lintas Pasundan News, yang tak lupa selalu hadir, terkadang didampingi oleh istri tercintanya. Baginya, warung ini bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan ruang inspirasi yang berharga.
“Tempat ini sering kali menjadi awal mula kami menemukan ide atau bahan berita yang menarik. Di samping aktivitas di dalam kawasan wisata yang selalu ramai dikunjungi berbagai pejabat, baik dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Disparpora) maupun instansi lainnya, percakapan santai di sini sering kali membawa kami pada sudut pandang berita yang berbeda dan berharga,” ujar Ade.
Hal senada diungkapkan oleh Aris, salah satu awak media dari Kabar Singaparna. Baginya, alasan singgah di warung teh milik Ibu Shita sederhana namun mendalam: tempatnya yang sejuk dan nyaman, serta harga makanan dan minuman yang sangat terjangkau.
“Meskipun saya datang dari luar kota, rasa lelah perjalanan seolah terbayar lunas dengan pelayanan Ibu Shita. Beliau selalu ramah dan menyapa hangat setiap pengunjung yang mampir di warungnya,” kata Aris.
Bagi para insan pers, warung kecil milik Ibu Shita ini memiliki makna lebih dari sekadar tempat membeli makanan atau minuman. Di sudut jalan Cipanas Galunggung ini, di antara hiruk-pikuk wisata dan aktivitas pemerintahan, terjalinlah silaturahmi, pertukaran gagasan, serta kehangatan persaudaraan yang menjadikan warung sederhana ini begitu istimewa dan berharga bagi dunia jurnalistik setempat.



