Rabu, Juni 3, 2026
BerandaBerandaACARA MILANGKALA TATAR SUNDA,MULANG KA SALAKA..KIRAB MAHKOTA KEMAHARAJAAN SUNDA.. MAHKOTA SANGHYANG PAKE...

ACARA MILANGKALA TATAR SUNDA,MULANG KA SALAKA..KIRAB MAHKOTA KEMAHARAJAAN SUNDA.. MAHKOTA SANGHYANG PAKE BINOKASIH..TIDAK HANYA MENGANGKAT NAMA SUMEDANG DAN SEJARAH KERAJAAN SUMEDANG LARANG TAPI JUGA SELURUH WILAYAH JAWA BARAT KEDALAM LINGKUP NASIONAL DAN INTERNASIONAL*

Kabupaten Tasikmalaya Lintaspasundannews.

Acara Kirab yang setiap tahun diadakan di Sumedang bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Sumedang yang diperingati setiap tanggal 22 April merujuk kepada
peristiwa sejarah penyerahan Mahkota Binokasih dari kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang
Pada hari Jumat, 22 April 1578 yang bertepatan dengan hari Idul Fitri.

Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Kusumahdinata I (Pangeran Santri) yg menjadi penguasa Kerajaan Sumedang Larang menerima empat Kandaga Lante (bangsawan/abdi raja setingkat bupati yang merupakan para patih Kerajaaan Pajajaran) di Istana Kerajaan Sumedang Larang di Kutamaya. Keempat Kandaga Lante tersebut bernama Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot. Keempatnya diutus Prabu Nusiya Mulya Surya Kancana/Prabu Seda/Raga Mulya Surya Kancana (Prabu Siliwangi) untuk menyerahkan Mahkota Binokasih – yang dibuat pada masa Prabu Bunisora (1357-1371) – dan beberapa benda atau atribut bernilai lainnya kepada Kerajaan Sumedang Larang. Penyerahan ini terjadi karena kerajaan Pajajaran mendapat tekanan dan serangan yg besar dari 3 kesultanan yaitu Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon dan Demak yg dilakukan dengan cara Gabungan..

Padahal Kerajaan Pajajaran merupakan leluhurnya langsung yg melahirkan Kesultanan Cirebon yg dipimpin oleh Sunan Gunung Jati yg merupakan cucu dari Prabu Siliwangi yg diawali dgn kerajaan Cirebon yg didirikan oleh pangeran Cakrabuana (Putra Prabu Siliwangi, Uwa dari Sunan Gunung Jati), yg kemudian disusul dgn Kesultanan Banten yg didirikan oleh Sunan Gunung Jati dengan putranya sebagai sultan Banten pertama.

Dalam menghadapi serangan yg kuat ini Prabu Siliwangi memutuskan untuk menyerahkan Mahkota dan atribut kelengkapannya serta wilayahnya kepada kerajaan Sumedang Larang sehingga kesultanan Banten tidak dapat mengambil alih wilayah Pajajaran.

Maka dengan terjadinya penyerahan Mahkota Binokasih dgn seluruh atribut kerajaan oleh Prabu Siliwangi(Prabu Nusiya Mulya Surya Kancana), maka Kerajaan Sumedang Larang menjadi penerus kekuasaan kerajaan Pajajaran. Mahkota Binokasih tersebut lalu diserahkan oleh pangeran Santri kepada putranya yaitu Pangeran Angkawijaya pada hari dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun.

Penyerahan mahkota Binokasih beserta atributnya dari kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang pada 22 April 1578 dikemudian hari setelah kemerdekaan Indonesian menjadi hari berdirinya Kabupaten Sumedang.

Setiap tahun pada bulan April diadakan parade atau acara kirab mahkota di kota Sumedang dengan mengedepankan sejarah Sumedang Larang yg dalam dua tahun belakangan ini acara kirab mahkota bergerak kedaerah lainnya menjadi napak tilas Pajajaran.

Dan acara kirab untuk tahun 2026 ini berjalan dengan sangat
luar biasa dengan Tema Kirab Seni dan Budaya Tatar Sunda yg berlangsung semalam ( Sabtu, 16 Mei 2026) di Bandung yg diadakan sebagai penutup rangkaian acara kirab yg dimulai dari Kirab Mahkota Binokasih dari Sumedang melintasi berbagai wilayah di Jawa Barat untuk napak tilas sejarah Kerajaan Sunda… Tapak Wangi Siliwangi…

Rombongan kirab bergerak dari Sumedang menuju Ciamis (situs Kawali), Tasikmalaya lalu berlanjut ke Garut,Cianjur, Bogor, Karawang, Cirebon, dan berakhir di Bandung.

Bacajuga:MIHARTI HIJI WANGSUT PIKEUN KAWALAGRIAN NAGRI,KARAHARJAAN BANGSA JEUNG NAGARA*

Luar biasa sekali, belum pernah terjadi acara akbar dan heboh sebesar ini di Jawa Barat sampai menarik perhatian nasional dan internasional.

Tidak mudah mengorganisir dan menyelenggarakan acara kirab seni dan budaya secara baik/professional.
Tanpa keahlian, pengalaman dan rasa pengabdian yg tulus tidak akan terwujud acara besar seperti ini. Bila masih terdapat kekurangan adalah hal wajar yg akan terus diatasi dan disempurnakan

Semoga dengan adanya acara kirab seni dan budaya yg dimulai dari Sumedang sebagai pionir ini dapat membangkitkan kembali cinta dan semangat akan seni dan budaya Jawa Barat terutama bagi generasi muda serta minat akan pengetahuan sejarah masa lampau di Jawa Barat sebelum berdirinya NKRI.

Acara Kirab seni dan budaya Sunda yang dilakukan secara konsisten setiap tahun akan mendorong peningkatan aktifitas dunia wisata di Jawa Barat. Apalah artinya biaya yg dikeluarkan bila menjadi imvestasi untuk menumbuhkan banyak hal positif bagi Jawa Barat.

Wistawaan-wisatawan baik dari dalam negeri dan mancanegara akan berdatangan ke Jawa Barat untuk melihat keindahan seni dan budaya serta alam Jawa Barat yg akan memberikan nilai tambah utk mendorong pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat terutama Kabupaten Sumedang.

Inshaa Allah phillosopi Sumedang Larang yg disabdakan oleh Prabu Tadjimalela *”Insun Medal Insun Madangan” yang bermakna “saya lahir untuk memberi penerangan”* akan memancarkan sinar yang kuat dari Sumedang ke seluruh wilayah Jawa Barat.

Saya dari lubuk hati yg dalam menghaturkan rasa syukur kpd Allah dan ucapan terima kasih yg besar kepada wargi2 keturunan Sumedang Larang, para kerabat, para tokoh Sumedang dan tokoh Jawa Barat serta Pemda Sumedang yg selama ini terlibat aktif dalam kegiatan kirab dengan segala daya dan upaya sampai akhirnya mendapat sambutan dan dukungan penuh dari Pemda Propinsi Jawa Barat yg dipimpin oleh Dedi Mulyadi yg sangat mencintai seni dan budaya Sunda.

Pesan saya kepada semua wargi katurunan KSL agar bijak dalam memberikan pandangan dan penilaian. Lihatlah dari kacamata sebagai bangsa Indonesia yang berasal dari suku sunda.

Hayu Para Wargi sareng Warga Sumedang sakumna Urang Sunda Sabuana Panca Tengah geura ngajajar milu nyaangan tur ngawangikeun ku elmu nu Rancage sewang- sewang.

Akhirul kalam “Qolbu dan Aqal” yang sehat akan memberikan keseimbangan hidup, menghasilkan kebijaksanaan dalam bertindak, serta melahirkan akhlak mulia…
Pun Tabe Pun…
Rahayu Swastiastu Nirmala Seda Malinglang..
Rahayu Byakta Bagja Waluya….
Rahayu Sagung Dumadi…
Rahayu Jaya Sampurna…..
Hung Ahuuung…Hung Ahuuung

( Ki Acep Aan )

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga