Kabupaten Tasikmalaya Lintaspasundannews.*Sebagai orang Sunda, kadang saya bertanya : mengapa kita terlalu bermadzhab ke Pajajaran ?*
Seolah seluruh kehormatan Sunda berawal dari singgasana ?
Mengapa nama Prabu Siliwangi begitu dominan, seakan sejarah Sunda hanya menemukan maknanya ketika bertemu mahkota?
*Padahal, jauh sebelum istana berdiri, Sunda sudah bernapas. Sunda tidak lahir dari tembok kerajaan.*
Sunda tumbuh dari tanah yang diolah para karuhun, dari bahasa yang lembut namun tegas, dari tata krama yang mengajarkan hormat bahkan sebelum mengenal politik kekuasaan.
*Menghormati Pajajaran bukan kesalahan. Mengagumi Prabu Siliwangi juga bukan dosa kultural.*
Namun menjadi tidak adil, jika seluruh kebesaran Sunda dipersempit hanya menjadi nostalgia istana.
*Karena Sunda bukan hanya kisah para raja, tetapi juga kisah rakyat yang menjaga nilai ketika kekuasaan berganti-ganti.*
Peradaban luhur Sunda tidak semata-mata tentang siapa yang duduk di singgasana.
Sunda adalah tentang cara manusia memuliakan sesama, tentang menjaga harmoni dengan alam dan tentang kebijaksanaan sebelum kekuasaan.
*Pajajaran adalah salah satu bab yang agung, tetapi Sunda adalah keseluruhan kitabnya. Dan kitab yang besar tidak boleh dibaca hanya dari satu halaman.*
# *SALAM : SUNDA TIDAK BUTUH MAHKOTA UNTUK MENJADI MULIA*



