Sabtu, Juni 13, 2026
BerandaBerandaCilampung Hilir: Mengukir Prestasi Sri Baduga di Tengah Keterbatasan Anggaran Desa

Cilampung Hilir: Mengukir Prestasi Sri Baduga di Tengah Keterbatasan Anggaran Desa

Oleh Wahid MA
Korlip lintaspasundannews.com
TASIKMALAYA – Selasa, 12 Mei 2026 — Di tengah gempuran tekanan keuangan yang menekan, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, membuktikan sebuah kebenaran indah: keunggulan pemerintahan tidak selalu lahir dari kelimpahan dana, melainkan dari tata kelola yang cermat, bijaksana, dan berintegritas. Tahun Anggaran 2026 menjadi babak istimewa bagi desa ini. Di saat alokasi Dana Desa menyusut drastis hingga tinggal sepertiga dari jumlah tahun sebelumnya, Cilampung Hilir justru mengukir sejarah gemilang dengan meraih Penghargaan Sri Baduga — anugerah tertinggi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat bagi desa-desa berprestasi. Sebuah capaian yang memancarkan sinar harapan di tengah keterbatasan, sekaligus menjadi teladan bagi pemerintahan desa lainnya.

Kepala Desa Cilampung Hilir, H. Deni Ahmad, S.Pd.I., dalam perbincangan mendalam, memaparkan bahwa strategi utama yang dijalankan adalah ketepatan sasaran dan prioritas yang matang. Dengan anggaran yang kini hanya sebesar Rp373.456.000 — turun tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya yang menembus angka lebih dari Rp1 miliar — seluruh kebijakan disusun dengan ketelitian layaknya seorang seniman yang menggoreskan karya di atas kanvas terbatas. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari kebijakan pemerintah pusat yang mengalihkan sebagian besar alokasi Dana Desa ke pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih.

“Sumber daya mungkin berkurang, namun tanggung jawab kami untuk melayani dan memajukan desa tidak pernah berkurang sedikit pun. Kami harus memastikan setiap rupiah yang dikelola jatuh pada tempat yang paling tepat dan memberikan manfaat terbesar bagi warga,” ungkap H. Deni Ahmad dengan tegas namun tenang.

Salah satu wujud nyata dari kebijakan berbasis keadilan ini terlihat dari penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap pertama senilai Rp6.000.000. Tahun ini, bantuan tersebut hanya disalurkan kepada lima warga masyarakat. Angka yang terlihat kecil, namun lahir dari proses panjang kajian mendalam, musyawarah mufakat bersama Badan Permusyawaratan Desa, serta verifikasi lapangan yang melibatkan seluruh unsur pemangku wilayah. Kelima warga tersebut teridentifikasi berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem, di mana kemampuan ekonomi mereka benar-benar belum sanggup memenuhi kebutuhan dasar hidup. Keputusan ini bukan tanda berkurangnya perhatian, melainkan bentuk kasih sayang yang bijak: memastikan uluran tangan hadir tepat di bahu mereka yang paling membutuhkan.

Seluruh anggaran yang tersisa pun kemudian diarahkan ke sektor-sektor vital yang menjadi tulang punggung kehidupan warga. Rincian alokasi tersebut mencakup: penanganan percepatan penurunan angka stunting sebesar Rp49.920.000 — sebuah langkah nyata menjaga kualitas generasi penerus; penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) senilai Rp29.000.000 untuk menopang perekonomian keluarga; pemadatan akses jalan lingkungan di wilayah Warunghanja senilai Rp16.000.000 guna memperlancar mobilitas warga; serta pembangunan infrastruktur teknologi informasi desa senilai Rp30.000.000 sebagai langkah masuk ke era digital.

Bacajuga:Opening Ceremony Ajang Talenta Murid 2026 Resmi Digelar, Diikuti 39 Kecamatan se-Kabupaten Tasikmalaya

Perhatian penuh juga dicurahkan bagi dunia pendidikan, sebagai investasi jangka panjang bangsa. Tercatat alokasi insentif bagi tenaga pendidik Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) sebesar Rp13.000.000 dan bagi tenaga pendidik Kelompok Bermain (Kober) senilai Rp3.000.000. Begitu pula dengan operasional pemerintahan desa yang dialokasikan Rp2.452.400, dana yang hingga kini masih tersimpan aman dan tercatat rapi di pembukuan desa. Pembagian anggaran ini menjadi bukti nyata: meski kainnya makin sempit, pemerintah desa tetap pandai menatahnya menjadi busana yang indah dan menutupi kebutuhan seluruh elemen masyarakat.

Di tengah segala keterbatasan dana itu, hadirlah kebanggaan yang membahana. Cilampung Hilir terpilih menjadi satu-satunya desa dari lima desa se-Kecamatan Padakembang yang berhak menyandang gelar penerima Penghargaan Sri Baduga, yang diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Penghargaan ini memiliki nilai strategis yang luar biasa. Dari total 351 desa yang tersebar di 39 kecamatan se-Kabupaten Tasikmalaya, hanya 39 desa terbaik yang mewakili wilayahnya, dan Cilampung Hilir terpilih berdiri tegak di antara perwakilan terbaik tersebut.

Penilaian ketat yang dilakukan tim verifikasi provinsi didasarkan pada tiga pilar utama: kualitas pelayanan publik yang ramah dan responsif, tertib administrasi serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel, serta kemajuan pembangunan sosial yang ditandai dengan tingginya partisipasi warga dalam setiap kegiatan desa. Sebuah pengakuan resmi bahwa kerja keras, kedisiplinan, dan integritas yang ditanamkan setiap hari telah membuahkan hasil yang memukau.

Sebagai imbal dari prestasi gemilang ini, desa berhak mendapatkan dukungan anggaran pembangunan senilai Rp200 juta, meski hingga saat ini dana tersebut belum dicairkan dan petunjuk teknis pelaksanaannya masih dalam proses penyusunan.

“Bagi kami, penghargaan ini jauh lebih berharga daripada sekadar nilai rupiah. Ini adalah pengakuan atas kerja sama seluruh elemen masyarakat, perangkat desa, dan dukungan semua pihak. Ketika nanti anggaran tersebut cair, kami akan menggunakannya sepenuhnya sesuai ketentuan, demi kemajuan desa. Apapun bentuk pembangunannya, tujuannya tunggal: kesejahteraan dan kebahagiaan warga Cilampung Hilir,” ujar H. Deni Ahmad penuh harap, dengan sorot mata yang memancarkan keyakinan besar.
Namun, di balik kebanggaan itu, ada satu hal yang disampaikan dengan nada rendah hati dan penuh tanggung jawab. Sekretaris Desa Cilampung Hilir, Jamaludin, S.Sos., menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh warga terkait belum dapat terlaksananya rencana pengaspalan jalan desa yang sempat diharapkan banyak pihak. Rencana mulia tersebut terpaksa harus ditunda dan disesuaikan, lantaran keterbatasan anggaran yang ada saat ini belum memadai untuk membiayai proyek infrastruktur berskala besar tersebut.

“Kami sangat mengerti harapan besar masyarakat terhadap perbaikan akses jalan. Rencana itu sudah kami susun dengan penuh keinginan baik, namun kenyataan kemampuan dana yang ada mengharuskan kami berjalan pelan dan bertahap. Atas nama Pemerintah Desa, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya. Ini bukan akhir dari usaha, melainkan jeda sementara. Kami akan terus berjuang dan berkoordinasi dengan instansi terkait, agar aspirasi mulia ini dapat terakomodasi melalui jalur pendanaan lain di luar Dana Desa,” tutur Jamaludin dengan nada yang tulus dan penuh tanggung jawab.

Bacajuga:Jaga Marwah Lembaga Rakyat Pangandaran bergerak Desak BK DPRD Pangandaran Gelar Sidang Etik Terbuka Kasus MBA

Ia menegaskan, di tengah segala dinamika kebijakan dan pasang surut alokasi dana, satu hal yang tidak akan pernah berubah: komitmen pemerintah desa untuk menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, dan semangat kebersamaan.

Langkah-langkah cermat yang telah diambil, mulai dari penyaluran bantuan yang tepat sasaran hingga capaian penghargaan tingkat provinsi, adalah bukti nyata bahwa Cilampung Hilir kini sedang membangun fondasi yang kokoh. Sebuah fondasi yang menjamin desa ini tetap tegak, beradaptasi, dan terus melangkah pasti menuju masa depan yang lebih maju, bermartabat, dan sejahtera bagi segenap warganya.

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga