Kamis, April 30, 2026
BerandaBerandaASN Gagap Tata Kelola: Lebih Baik dialih tugaskan kembali daripada Jadi Beban...

ASN Gagap Tata Kelola: Lebih Baik dialih tugaskan kembali daripada Jadi Beban Sistem “

lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(11 APRIL 2026) ~ Realitas pahit birokrasi hari ini menunjukkan masih adanya ASN yang gagap memahami tata kelola pemerintahan, namun tetap nyaman duduk di kursi strategis tanpa kontribusi nyata. Ini bukan sekadar soal kompetensi, tapi soal kegagalan sistem dalam menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.

ASN seperti ini tidak hanya memperlambat pelayanan publik, tapi juga menjadi beban struktural yang merusak ritme kerja institusi. Dalam situasi seperti ini, solusi paling rasional bukan dipertahankan atau “ditoleransi”, melainkan dialih tugaskan ke Kecamatan Cikalong, Cipatujah, Cibalong atau Sukaraja, karena wilayah ini penuh dengan dinamika sosial, konflik kepentingan, dan kompleksitas budaya masyarakat. Di sana, mereka dipaksa berhadapan langsung dengan realitas, bukan sekadar teori di balik meja.

Kecamatan adalah “laboratorium kehidupan” bagi ASN yang selama ini hanya pintar di atas kertas. Interaksi langsung dengan masyarakat akan membuka mata mereka tentang arti pelayanan publik yang sesungguhnya: cepat, responsif, dan penuh empati.

Jika mereka tidak mampu beradaptasi di level ini, maka sudah seharusnya dipertanyakan kelayakannya untuk tetap berada dalam sistem birokrasi. Negara tidak butuh ASN yang sekadar hadir, tapi yang mampu bekerja dan memahami denyut nadi masyarakat.

Bacajuga:Dalam rangka rapat. Kordinasi program presiden kementrian pertanian Republik indonesia antisipasi menghadapi Musim kemarau 2026

Sudah saatnya kebijakan kepegawaian lebih tegas: yang tidak kompeten, turun. Yang tidak mau belajar, tersingkir. Karena birokrasi yang lemah hanya akan melahirkan pelayanan publik yang buruk—dan itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.

Seperti diketahui dalam perspektif Administrasi Publik, rotasi ASN seperti yang terjadi di lingkungan Setwan yang memiliki keistimewaan strategis sebagai instrumen penyegaran organisasi dan peningkatan kapasitas adaptif aparatur.

Praktik ini sejalan dengan prinsip meritokrasi yang menempatkan pengalaman lintas fungsi sebagai modal penting dalam membentuk ASN yang responsif, tidak sektoral, dan memahami kompleksitas pelayanan publik secara utuh. Rotasi bukan sekadar “memindahkan orang”, tetapi mekanisme korektif untuk memutus zona nyaman, memperkaya perspektif kerja, serta menguji kompetensi riil di lapangan.

Dalam banyak kajian kelembagaan, ASN yang pernah ditempa di unit dengan dinamika tinggi—seperti kecamatan atau sekretariat dewan—cenderung memiliki sensitivitas sosial, ketajaman analisis kebijakan, dan daya tahan birokrasi yang lebih kuat dibanding mereka yang terlalu lama berada di satu posisi stagnan.

IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#KETUADPRDKABUPATENTASIKMALAYA,#BUPATITASIKMALAYA,#SEKRETARISDAERAHKABUPATENTASIKMALAYA,#KEPALABKPSDM,#ASNSETDA,#SETWAN,#PUBLIK,#FYPVIRAL,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga