Cigalontang, Lintaspasundan-news, Kabupaten Tasikmalaya — Inovasi pelayanan kesehatan kembali dilakukan oleh Puskesmas Cigalontang melalui program bertajuk “DORAYAKI” (Donor Darah dalam Rangka Menurunkan Angka Kematian Ibu). Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab persoalan tingginya risiko kematian ibu saat persalinan akibat perdarahan. Selasa 26 April 2026
Kegiatan donor darah yang dilaksanakan rutin setiap dua bulan sekali ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan stok darah, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di wilayah kerja Puskesmas.
Latar Belakang dan Inovasi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bdn.Ai Nurohmani S.St, M.Kes, program ini lahir dari keprihatinan terhadap masih adanya kasus ibu yang tidak tertolong saat persalinan, salah satunya akibat keterbatasan ketersediaan darah.
“Dari tahun ke tahun masih ditemukan kasus ibu yang tidak tertolong saat melahirkan karena tidak tersedianya donor darah. Ini menjadi dasar kami menghadirkan inovasi DORAYAKI,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya kegiatan donor darah di wilayah tersebut sudah pernah dilakukan, namun belum terkelola secara optimal. Melalui inovasi yang didukung dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Puskesmas mulai melakukan pengelolaan lebih terstruktur serta sosialisasi masif ke masyarakat.
Kerja Sama dan Kemudahan Akses
Puskesmas Cigalontang juga telah menjalin kerja sama dengan PMI Kabupaten Tasikmalaya melalui nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini memastikan masyarakat mendapatkan kemudahan akses darah saat kondisi darurat.
“Kami berharap warga Cigalontang tidak dipersulit saat membutuhkan darah, karena masyarakat sudah berkontribusi melalui kegiatan donor rutin,” tambahnya.
Frekuensi kegiatan donor darah pun ditingkatkan, dari sebelumnya tiga bulan sekali menjadi dua bulan sekali, guna menjaga ketersediaan stok darah tetap aman.
Sasaran dan Target
Program ini menyasar berbagai elemen masyarakat, di antaranya:
Suami ibu hamil sebagai pendonor siaga
Kader Posyandu dan Desa Siaga
ASN, guru, dan Karang Taruna
Masyarakat umum usia 17–60 tahun
Dalam setiap kegiatan, ditargetkan sekitar 50 peserta dengan capaian minimal 30 kantong darah yang disalurkan ke PMI.
Edukasi Ubah Persepsi Masyarakat
Ai Nurohmani mengungkapkan, pada awalnya minat masyarakat untuk donor darah masih rendah karena rasa takut dan kurangnya pemahaman. Namun melalui sosialisasi yang dilakukan secara langsung ke desa dan sekolah, kini kesadaran masyarakat mulai meningkat.
“Setelah diberikan pemahaman, masyarakat mulai mengetahui bahwa donor darah tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan diri,” jelasnya.
Manfaat Lebih Luas
Meski difokuskan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, keberadaan stok darah ini juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan medis lainnya, seperti kecelakaan lalu lintas maupun penyakit tertentu yang memerlukan transfusi darah.
Program DORAYAKI diharapkan menjadi inovasi berkelanjutan yang tidak hanya menyelamatkan ibu melahirkan, tetapi juga memperkuat sistem kesiapsiagaan layanan kesehatan di masyarakat.
*Aris



