Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(20/12/2025) ~ Apabila Lembur Pakuan ke depan menjadi Pusat Budaya Sunda, termasuk sebagai ruang pelestarian seni tradisional yang hampir punah, maka sudah dipastikan kawasan ini dapat berperan strategis sebagai benteng identitas budaya Sunda di Jawa Barat,ditengah meningkatnya arus modernisasi. Justru Lembur Pakuan tidak hanya menjadi simbol sejarah dan spiritualitas Sunda, tetapi juga pusat edukasi,regenerasi, dan revitalisasi kebudayaan.
Pengembangan ini dapat mencakup berbagai asfek, dari pendokumentasian dan pengajaran seni tradisional seperti wayang golek, pantun Sunda,kaulinan barudak, seni bela diri tradisional,musik buhun,aksara Sunda,hingga ritual adat yang sudah mulai jarang dipraktikkan. Dengan melibatkan para sesepuh adat, seniman lokal,akademisi,dan generasi muda, Lembur Pakuan dapat menjadi ruang hidup—bukan sekadar museum—tempat budaya dipraktikkan secara berkelanjutan.
Selain aspek budaya,keberadaan pusat budaya ini juga berpotensi mendorong pariwisata berbasis kearifan lokal,untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai-nilai adat. Program residensi seniman,festival budaya rutin, serta kurikulum muatan lokal dapat memperkuat posisi Lembur Pakuan sebagai rujukan utama kebudayaan Sunda, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan demikian,Lembur Pakuan bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan budaya Sunda agar tetap hidup,relevan, dan bermartabat.
Jika Lembur Pakuan sebagai Pusat Budaya Sunda, disusun harus secara formal dan siap digunakan untuk dokumen kebudayaan, kebijakan, atau perencanaan strategis.
Visi.
Menjadikan Lembur Pakuan sebagai Pusat Budaya Sunda yang hidup, berdaulat, dan berkelanjutan dalam melestarikan nilai, jati diri, serta seni tradisional Sunda, termasuk yang hampir punah, sebagai warisan luhur bagi generasi masa kini dan mendatang.
Misi.
1.Pelestarian Budaya Melindungi, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali seni, adat, bahasa, dan tradisi Sunda—terutama seni tradisional yang terancam punah—agar tetap lestari dan relevan dengan perkembangan zaman.
2.Regenerasi dan Pendidikan Menjadi pusat pembelajaran budaya Sunda melalui pendidikan formal dan nonformal, pelatihan seni tradisional, serta transfer pengetahuan dari sesepuh adat dan budayawan kepada generasi muda.
3.Revitalisasi Seni Tradisional Mengembangkan ruang praktik, pertunjukan, dan inovasi seni tradisional Sunda seperti wayang golek, seni buhun, musik tradisional, pantun, kaulinan barudak, aksara Sunda, dan bela diri tradisional agar kembali hidup dalam keseharian masyarakat.
4.Penguatan Identitas dan Nilai Luhur Menanamkan nilai-nilai kearifan lokal Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh, tata krama, dan harmoni dengan alam sebagai fondasi kehidupan sosial dan kebangsaan.
5.Pengembangan Ekonomi Budaya Mendorong ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya yang beretika, berkeadilan, dan berpihak pada masyarakat adat serta warga sekitar tanpa menghilangkan nilai sakral dan filosofis budaya Sunda.
6.Kolaborasi dan Jejaring Budaya Membangun kemitraan dengan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan jejaring nasional maupun internasional untuk memperkuat posisi Lembur Pakuan sebagai rujukan utama kebudayaan Sunda.
IWAN SINGADINATA.
(DARI TATAR SUKAPURA)
#GUBERBURJAWABARAT,#KANGDEDIMULYADI,#LEMBURPAKUAN,#SUBANG
#DINASPARAWISATAPROVINSIJAWABARAT,#KOMINDIGIPROVINSIJAWABARAT,#HUMASSETDAPROVJABAR,#MASYARAKATJAWABARAT,#BUDAYANUSANTARA,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYPVIRAL,#SOROTANTAJAM,#BERITAVIRALTAHUN2025,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



