Kamis, April 30, 2026
BerandaBerandaHanjuang Bodas: Jejak Sunyi Lambang Pajajaran”

Hanjuang Bodas: Jejak Sunyi Lambang Pajajaran”

Lintaspasundannews.Selama ini banyak orang meyakini bahwa harimau putih adalah lambang Kerajaan Pajajaran. Gagah, buas, dan penuh wibawa. Namun Pantun Bogor menyimpan kisah lain yang jauh lebih lirih sekaligus sakral. Menurut tuturan yang diwariskan almarhum Anis Djati Sunda, lambang sejati Pajajaran bukanlah binatang, melainkan sebatang pohon suci bernama Hanjuang Bodas.

Hanjuang Bodas bukan pohon sembarangan. Ia pernah tumbuh di Taman Mila Kancana, dirawat dengan penuh kehati-hatian, bahkan nyaris tak dikenali wujudnya oleh siapa pun. Hanya dua sosok yang benar-benar mengetahui rahasianya, yaitu Prabu Siliwangi dan Aki Santarupa, sang penjaga jimat Pajajaran. Pohon ini bukan sekadar tanaman, melainkan simbol hidup dari kejayaan, kearifan, dan roh Pajajaran itu sendiri.

Ketika Pajajaran memasuki detik-detik kejatuhannya, ribuan pasukan musuh mengepung tanpa ampun. Di tengah kekacauan itulah sejarah berbelok. Pertanyaan pun muncul hingga kini: apa yang sebenarnya diselamatkan para pengawal setia raja? Hanjuang Bodas, ataukah Pakujajar? Dua pohon yang serupa rupa, namun berbeda makna.

Bacajuga:Sholat Duha Jadi Rutinitas Pembentukan Karakter di SMPN 2 Pabedilan Kabupaten Cirebon

Tiga tokoh utama tampil sebagai bayang-bayang kesetiaan terakhir: Ki Buluh Panunjang, Ki Luntang Kendengan, dan Ki Haur Tangtu. Mereka ibarat pasukan pengamanan kerajaan di masa kini, tak beranjak dari sisi Prabu Siliwangi hingga detik terakhir. Bersama sang raja, mereka meninggalkan Bogor, menuju takdir akhir yang misterius: ngahiyang di Nusa Larang, Sukabumi, berpindah dari alam nyata ke alam carita.

Di saat perang memuncak, Aki Santarupa mencabut Hanjuang Bodas agar tidak jatuh ke tangan musuh. Namun hujan anak panah merenggut nyawanya. Dalam hembusan napas terakhir, ia melempar pohon itu ke arah Wilangnatadani, Patih Taman. Sayangnya, Natadani tengah sibuk menangkis serangan. Pohon itu terjatuh ke semak belukar, lenyap dari pandangan.

Dengan keyakinan dan kepasrahan, Natadani meraba-raba dan mencabut pohon lain. Ia tak tahu bentuk Hanjuang Bodas, namun hatinya bersumpah: “Bisi kaula gugur, ieu kudu salamet.” Pohon itu diserahkan kepada tiga pengawal utama. Tak lama kemudian, Natadani gugur di medan laga. Dan baru belakangan disadari, pohon yang diselamatkan itu bukan Hanjuang Bodas, melainkan Pakujajar.

Setelah Prabu Siliwangi ngahiyang, ketiga pengawal itu terus bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghindari kejaran musuh Pajajaran. Di setiap tanah yang mereka singgahi, Pakujajar ditanam sebagai simbol kerajaan yang mereka yakini. Dari perjalanan sunyi inilah kelak tumbuh kampung-kampung adat Sunda yang bertahan hingga hari ini: Bayah di Banten, hingga Ciptagelar di Sukabumi.

Lalu, di manakah Hanjuang Bodas yang asli?

Menurut Abah Kalong Hideung, pewaris Pantun Bogor, Hanjuang Bodas turut moksa bersama Hyang Prabu Siliwangi. Ia tak musnah, tak pula berpindah. Konon, ia masih berkelana di sekitar Bogor, ngalanglang jagat sebagai kenangan abadi. Sebuah penanda rindu bagi generasi Sunda yang masih menyimpan Nyunda Jati Majapajaran dalam dirinya.

Pun sapun
Kisah ini bukan sekadar cerita lama, melainkan cermin tentang kesetiaan, kekeliruan manusia, dan bagaimana sebuah simbol bisa hidup melampaui wujudnya ( Tim )

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga