Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKAMALAYA.(16/12/2025) – Oleh karena jarak antara kualitas gagasan akademik dan pengalaman nyata rakyat. Beberapa faktor utama yang membuat Tim Reformasi Kepolisian terlihat “tinggi secara pemikiran, tapi membingungkan hasilnya” antara lain:
1.Bahasa Akademik Tidak Turun ke Bahasa Publik
Tim reformasi biasanya diisi akademisi, pakar hukum, dan peneliti kebijakan.
Masalahnya :
– Rekomendasi mereka ditulis dalam bahasa teknokratis
– Tidak diterjemahkan menjadi narasi sederhana yang dipahami rakyat
Akibatnya, masyarakat tidak tahu :
“Apa yang berubah?”
“Apa dampaknya buat saya?”
2. Reformasi Struktural ≠ Reformasi Perilaku
Banyak rekomendasi fokus pada:
– Struktur organisasi
– Regulasi internal
– Mekanisme pengawasan di atas kertas
Namun rakyat menilai dari hal yang sangat konkret:
– Cara polisi berbicara di jalan
– Respons saat laporan dibuat
Ada atau tidaknya pungli
Ketika perilaku di lapangan tidak berubah, rakyat menganggap reformasi gagal—meskipun secara dokumen terlihat maju.
3. Terjebak Kompromi Politik dan Institusional
Reformasi kepolisian tidak terjadi di ruang hampa.
Sering kali:
– Rekomendasi dipangkas agar “tidak terlalu radikal”
– Ide kritis dilembutkan demi stabilitas
– Kepentingan institusi lebih dominan daripada kepentingan publik
Hasil akhirnya:
* Reformasi versi “aman”, bukan versi “berani”.
4. Minim Partisipasi Korban dan Masyarakat
-Banyak tim reformasi:
– Lebih sering berdiskusi dengan elite
-“Kurang mendengar korban salah tangkap, kekerasan, atau kriminalisasi
Padahal reformasi yang kuat justru lahir dari:
– Pengalaman korban
– Kesaksian warga kecil
– Realitas di kantor polisi tingkat bawah
Tanpa itu, rekomendasi terasa asing dan tidak membumi.
5. Tidak Ada Ukuran Keberhasilan yang Jelas
Rakyat butuh indikator sederhana :
– Apakah laporan sekarang lebih cepat?
– Apakah pelanggaran polisi benar-benar dihukum?
– Apakah rasa aman meningkat?
-Sayangnya, yang sering disampaikan:
– Jumlah regulasi baru
– Unit baru
– Satgas baru
Banyak “baru”, tapi rasa keadilan lama.
Kesimpulan :
1. Masalahnya bukan kurang pintar, tapi kurang membumi dan kurang berani.
Namun yang jelas reformasi kepolisian akan terus membingungkan rakyat jika:
– Akademik tidak mau mendengar akar rumput
– Negara takut mengoreksi institusinya sendiri
– Perubahan hanya berhenti di dokumen, bukan di sikap petugas.
2. Contoh Kegagalan Reformasi yang Sering Terjadi
– Aturan berubah, perilaku tetap → SOP baru tapi pungli & kekerasan masih ada
– Satgas banyak, tanggung jawab kabur → kasus pelanggaran berhenti di klarifikasi
– Hukuman internal lemah → publik tidak melihat keadilan nyata
3. Negara yang Relatif Berhasil Mereformasi Polisi
– Georgia: membubarkan total polisi lalu lintas lama, rekrut ulang secara bersih
– Inggris: pengawasan independen kuat, polisi bisa diperiksa di luar institusi
– Jepang: polisi dekat komunitas (koban), fokus pencegahan & kepercayaan
*Kunci sukses: berani, transparan, dan konsisten.
4. Indikator Reformasi Versi Rakyat
– Laporan mudah & cepat, tanpa biaya
– Polisi sopan dan akuntabel
– Pelanggaran polisi dihukum terbuka
– Rasa aman meningkat, bukan takut polisi.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#PRESIDENREPUBLIKINDONESIAPRABOWOSUBIANTO,#KEMENTERIANPERTAHANANREPUBLIKINDONESIA,#MARKASBESARKEPOLISIANREPUBLIKINDONESIA,#KAPOLRILISTYOSIGITPRABOWO
#TIMREFORMASIPOLRI,#JIMMYASSIDIQLY,#MAFFUDMD,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#SOROTANTAJAM,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD,#FYPVIRAL



