Lintaspasundannews.TASIKMLAYA KOTA ( 22 Desember 2025 ) —Tahun 2025 menjadi lembar penting dalam perjalanan Kota Tasikmalaya. Sebuah tahun transisi: kepemimpinan baru, harapan baru, sekaligus ujian awal bagi arah pembangunan kota santri ini. Dari ruang-ruang pemerintahan hingga denyut ekonomi rakyat, Tasikmalaya bergerak pelan namun pasti, sembari bersiap menatap 2026 dengan ekspektasi yang kian meninggi.
POLITIK: TAHUN PENYESUAIAN DAN UJIAN KEPEMIMPINAN.
Pergantian kepemimpinan pasca Pilkada 2024 menandai 2025 sebagai fase bulan madu politik. Pemerintahan baru disambut optimisme, namun juga diiringi tuntutan tinggi dari publik.
Sejumlah isu mengemuka:
• efektivitas birokrasi,
• respons terhadap aspirasi mahasiswa dan masyarakat sipil,
• serta konsistensi janji kampanye.
Di sisi lain, ruang partisipasi publik tampak lebih terbuka. Audiensi, kritik terbuka, dan diskusi kebijakan menjadi warna politik lokal sepanjang tahun.
Catatan akhir 2025:
Stabilitas politik relatif terjaga, tetapi 2026 akan menjadi tahun pembuktian — bukan lagi soal niat, melainkan hasil nyata.
EKONOMI: BERTAHAN, BANGKIT, DAN MENCARI BENTUK
Ekonomi Kota Tasikmalaya sepanjang 2025 berada dalam fase bertahan sambil menata ulang. Inflasi terkendali, namun tekanan biaya hidup masih dirasakan masyarakat bawah.
UMKM tetap menjadi tulang punggung:
• kerajinan khas Tasik,
• kuliner lokal,
• jasa kreatif dan event.
Festival, perayaan budaya, dan kegiatan ekonomi berbasis komunitas memberi napas segar, meski belum sepenuhnya merata.
Refleksi ekonomi 2025:
Tasikmalaya belum melonjak, tetapi tidak jatuh. Fondasi sedang disiapkan — terutama menuju ekonomi kreatif dan syariah di 2026.
BUDAYA: IDENTITAS LOKAL DI TENGAH PERUBAHAN..
Tahun 2025 menunjukkan satu hal penting:
budaya Tasikmalaya tetap hidup.
Rekor kuliner, festival pernikahan, seni tradisi, dan kegiatan religi menjadi penanda bahwa identitas lokal masih kuat. Menariknya, generasi muda mulai mengambil peran lebih besar — mengemas tradisi dalam format digital dan modern.
Budaya religius tetap dominan, namun tampil lebih inklusif dan komunikatif.
Makna budaya 2025:
Tasikmalaya tidak kehilangan jati diri, justru sedang belajar menampilkan identitasnya ke luar.
LINGKUNGAN & REALITAS ALAM: PERINGATAN SERIUS.
Di balik dinamika pembangunan, alam memberi peringatan keras.
Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem terjadi berulang sepanjang 2025.
Isu lingkungan menjadi pekerjaan rumah besar:
• tata ruang,
• drainase kota,
• dan mitigasi bencana.
Ini bukan lagi isu musiman, melainkan ancaman struktural.
MENATAP 2026: DARI HARAPAN KE TUNTUTAN.
Jika 2025 adalah tahun penyesuaian, maka 2026 adalah tahun penilaian.
Publik akan menunggu:
• realisasi program ekonomi rakyat,
• kebijakan yang berpihak pada UMKM dan generasi muda,
• keberanian menata kota dan lingkungan,
• serta konsistensi kepemimpinan dalam tekanan politik dan sosial.
Nada 2026 diperkirakan berubah:
dari sabar menjadi kritis,
dari menunggu menjadi menagih.
KESIMPULAN : TASIKMALAYA DI PERSIMPANGAN
Kota Tasikmalaya menutup 2025 dengan satu pertanyaan besar:
akan melangkah lebih berani, atau berjalan di tempat?
Modal sosial, budaya, dan religiusitas sudah ada.
Tantangannya kini terletak pada keberanian mengambil keputusan dan ketegasan menjalankannya.
**2026 BUKAN LAGI SOAL SIAPA PEMIMPIN – TETAPI KEMANA TASIKMALAYA KOTA DIBAWA.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA KOTA/DAERAH)
#DPRDPRIVINSIJAWABARAT,#GUBERNURJAWABARAT,#DPRDTASIKMALAYAKOTA,#WALIKOTATASIKMALAYAVIMANALFARIZI,#MASYARAKATKOTATASIKMALAYA,#PUBLIK,#FYPVIRAL,#SOROTANTAJAM,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD,#SEMUAORANG



