Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(19 APRIL 2026) ~ Konflik Iran versus Amerika Serikat–Israel menunjukkan bahwa dalam geopolitik modern, label istilah, “adikuasa”, atau “bangsa paling pintar”, kini terlihat semakin rapuh karena kekuatan global tidak hanya diukur dari militer dan teknologi, tetapi juga daya tahan strategis, identitas peradaban, serta kemampuan bertahan dalam tekanan panjang.
Iran sebagai pewaris tradisi Persia sering menampilkan narasi bahwa kejayaan ilmu pengetahuan, diplomasi, matematika, astronomi, dan tata negara bukan monopoli Barat maupun Israel.
Sementara United States tetap memiliki kekuatan besar, perang berkepanjangan justru memperlihatkan bahwa dominasi absolut sulit dipertahankan.
Bacajuga:Milangkala ke-151 Desa Sodonghilir Digelar Meriah, Angkat Warisan Budaya dan Semangat Pembangunan
Secara akademik, ini menegaskan pergeseran dari unipolaritas menuju dunia multipolar, di mana sejarah, budaya, dan ketahanan nasional kembali menjadi faktor penting dalam menentukan posisi sebuah negara di panggung internasional.
Seperti diketahui dalam sejarah pada abad pertengahan kejayaan Islam, banyak ilmuwan besar dari kawasan Persia memang memberi kontribusi luar biasa pada kedokteran, matematika, filsafat, astronomi, dan kimia.
Ternyata kecerdasan dan capaian ilmu satu bangsa, merupakan hasil dari perpaduan pendidikan, budaya literasi, stabilitas politik, tradisi riset, dan pertukaran gagasan. Tokoh seperti Ibn Sina, Al-Khwarizmi, dan Omar Khayyam berkembang karena ekosistem ilmu yang kuat. Jadi secara akademik, keunggulan intelektual lebih tepat dipahami sebagai warisan peradaban dan kesempatan sosial.
Kesimpulan filosofis – Secara ilmiah, manusia sebagai spesies memang memiliki kapasitas bawaan untuk belajar dan rasa ingin tahu, berkemampuan bahasa, berpikir simbolik, memecahkan masalah, dan mewariskan pengetahuan antargenerasi.
Faktor-faktor inilah yang membuat peradaban berkembang, dari Persia, Mesopotamia, Ancient Greece, hingga dunia modern. Jadi, bila dimaknai metaforis, manusia memang “terprogram” untuk mencari ilmu—karena evolusi memberi kemampuan untuk belajar dan mencipta.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
PENGAMAT OMON – OMON – TINGGAL DI KAMPUNG TERPENCIL DARI DESA YANG TERTINGGAL.
#BANGSAINDONESIA,#YANGRAMAH,#SANTUN,#SALINGMENGHORMATI,#PUBLIK,#SEMUAORANG,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



