TASIKMALAYA | Lintaspasundan-news — Pemerintah Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, akan menggelar Festival Durian Kampung pada 2 September 2026 di Mall Kampoengan. Kegiatan yang dirangkaikan dengan Bina Wilayah di kampung Mandalamekar RT 01/RW 05 tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi Desa Mandalamekar, mulai dari hasil pertanian, kuliner, seni budaya hingga wisata alam. Selasa 01/09/2026.
Festival tersebut dijadwalkan turut dihadiri istri Bupati Tasikmalaya, Hj. Retno Widyastuti, S.E., bersama unsur PKK dan masyarakat. Kehadiran tersebut diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap upaya Desa Mandalamekar dalam mengembangkan potensi lokal dan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kepala Desa Mandalamekar, Alfie Akhmad Sa’dan Hariri, S.E., S.H., M.H., mengatakan Festival Durian Kampung tidak hanya ditujukan sebagai ajang menikmati buah durian, tetapi juga sebagai upaya memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas.

“Intinya kami ingin memperkenalkan potensi alam, potensi pangan dan potensi kuliner. Mandalamekar memiliki banyak potensi yang bisa digali, baik seni budaya maupun hasil pertanian,” ujar Alfie.
Menurutnya, salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah wisata berbasis pertanian.
Pengunjung nantinya tidak hanya membeli durian, tetapi bisa datang langsung ke kebun, menikmati durian di bawah pohonnya, sekaligus melihat aktivitas petani.
“Misalnya ada durian harga Rp10 ribu sampai Rp15 ribuan, orang bisa datang langsung ke Mandalamekar dan membeli. Bahkan bisa menikmati durian langsung di bawah pohonnya,” katanya.
Konsep tersebut, lanjut Alfie, diharapkan memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana petani merawat pohon durian, mengikat buah hingga proses panen.
“Jadi orang datang bukan sekadar makan durian. Bisa sambil jalan-jalan, melihat pertanian dan mendapatkan edukasi. Kalau di kota harga Rp100 ribu mungkin hanya dapat dua, di sini bisa mendapatkan lebih banyak dengan harga yang lebih ringan,” ungkapnya.
Alfie menilai, pengembangan potensi tersebut harus ditopang dengan infrastruktur yang baik, terutama akses jalan. Infrastruktur yang memadai diyakini dapat memperpendek rantai distribusi hasil pertanian sehingga petani bisa berhubungan langsung dengan konsumen.
“Kalau jalan bagus, masyarakat tidak perlu repot membawa hasil pertanian ke pasar. Durian, cabai, kacang, timun dan hasil pertanian lainnya bisa dijual langsung di depan rumah ketika banyak orang datang,” jelasnya.
Dengan demikian, petani tidak selalu bergantung kepada tengkulak dan memiliki peluang untuk melakukan transaksi langsung dengan konsumen.
Mall Kampoengan Diproyeksikan Jadi Pusat Ekonomi Desa
Selain Festival Durian, Pemerintah Desa Mandalamekar juga tengah mengembangkan Mall Kampoengan sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Alfie menjelaskan, penggunaan istilah “kampungan” justru sengaja diangkat untuk menunjukkan bahwa kehidupan kampung bukan sesuatu yang identik dengan keterbelakangan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kampungan itu bukan sesuatu yang buruk atau berarti tertinggal. Justru kami ingin mengangkat budaya lama yang ada di kampung sebagai sesuatu yang baik dan hebat,” ujarnya.
Mall Kampoengan ke depan diharapkan menjadi pusat berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kuliner, pakaian, produk UMKM, hasil pertanian hingga ruang bermain anak. Konsep tersebut juga akan disandingkan dengan Koperasi Desa Merah Putih, sehingga diharapkan menjadi pusat perdagangan dan perputaran ekonomi di Mandalamekar.
“Mall Kampoengan saya harapkan menjadi pusat ekonomi, pusat perdagangan dan pusat perputaran ekonomi masyarakat,” kata Alfie.
Mandalamekar sendiri memiliki sejumlah komoditas unggulan.
Dusun Cinangsi dikenal sebagai salah satu sentra dukuh, sementara Dusun Mekarsari menjadi salah satu sentra durian.
Ke depan, berbagai fasilitas pendukung juga direncanakan untuk memperkuat konsep wisata desa, di antaranya kolam renang, sentra kuliner anak, homestay, taman baca, perpustakaan serta butik PKK.
Namun, Alfie menegaskan bahwa seluruh potensi tersebut membutuhkan dukungan pembangunan infrastruktur yang memadai dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
“Potensi alam, budaya, seni, hasil pertanian, kerajinan dan kuliner kalau tidak ditopang dengan infrastruktur yang baik, akan sulit berkembang. Karena itu pembangunan desa harus betul-betul diperhatikan,” tegasnya.
Ia berharap pembangunan infrastruktur dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dan wisatawan. Dengan jalan yang baik, Mandalamekar tidak hanya menjadi daerah penghasil pertanian, tetapi juga dapat berkembang sebagai destinasi wisata berbasis alam, budaya dan pertanian sekaligus pusat ekonomi masyarakat desa.
Melalui Festival Durian Kampung, Pemerintah Desa Mandalamekar ingin membuktikan bahwa potensi yang selama ini berada di kampung dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru, dengan melibatkan langsung petani, pelaku UMKM, masyarakat serta berbagai unsur desa.
*Aris



