Selasa, Juli 28, 2026
BerandaBerandaMemperingati 10 Muharam, Warga Kampung Kubang Jaya Lestarikan Tradisi Ngaliwet Pererat Ukhuwah

Memperingati 10 Muharam, Warga Kampung Kubang Jaya Lestarikan Tradisi Ngaliwet Pererat Ukhuwah

Oleh: Wahid MA
Editor Lintaspasundannews.com
Tasikmalaya jum’at 26 juni 2026 Dalam rangka memperingati hari besar Islam yang sarat makna mendalam, yakni tanggal 10 Muharam, masyarakat Kampung Kubang Jaya, RT 06 .RW 01, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, kembali menggelar kegiatan kebersamaan yang telah menjadi tradisi yang terpelihara dari tahun ke tahun. Kegiatan yang dikenal dalam kearifan lokal masyarakat Sunda sebagai ngaliwet — yaitu kegiatan memasak dan menikmati hidangan secara bersama-sama — diselenggarakan di lingkungan Jalan Kampung Kubang Jaya, tepatnya di halaman belakang Masjid Al-Ikhlas, dan berlangsung segera setelah pelaksanaan Salat Jumat.

Sejak persiapan dimulai, suasana lingkungan terasa berbeda; dipenuhi semangat gotong royong yang tulus, di mana warga dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, pemuda, hingga orang tua, saling bahu-membahu menyiapkan segala keperluan. Ada yang membawa bahan makanan, ada yang sibuk menyiapkan tempat, dan ada pula yang terlibat langsung dalam proses memasak. Interaksi yang terjalin terasa begitu akrab, tanpa sekat, mencerminkan ikatan kekeluargaan yang telah terjalin lama. Sepanjang acara berlangsung, suasana terasa sangat hangat, khidmat, serta dipenuhi rasa sukacita yang meluap sebagai wujud nyata kebersamaan yang sesungguhnya.

Tradisi ini bukanlah kegiatan yang baru muncul, melainkan telah dipelihara dan dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya sebagai warisan budaya dan nilai luhur yang ingin terus dijaga. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk mempererat tali persaudaraan, memperkokoh rasa kebersamaan, serta memperkuat keharmonisan antarwarga agar tetap bersatu, kompak, dan solid dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Melalui momen sederhana ini, tercipta ruang bagi warga untuk saling berbagi cerita, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan mempererat rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Antusiasme yang tinggi tampak nyata terlihat; rasa bahagia dan kebanggaan terpancar jelas dari setiap wajah yang hadir, menjadikan acara ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momen yang dinanti-nantikan setiap warganya.

Bacajuga:Kapolres Tasikmalaya Kota Menerima Kunjungan Kerja Kompolnas RI dalam Rangka Pengumpulan Data SDM, Sarpras, Anggaran dan Operasional Polri

Gagasan terselenggaranya acara ini terwujud berkat inisiatif bersama sejumlah unsur yang peduli terhadap kemajuan dan kerukunan lingkungan. Di antaranya adalah . Rahmat Hidayat selaku Kepala Seksi Pelayanan Desa Sinagar, Agus Salim selaku Ketua RT Kampung Kubang Jaya, serta didukung penuh oleh para tokoh masyarakat setempat. Dalam rangkaian acara tersebut, Ustad Farhan Nurjaman turut hadir dan memimpin sesi doa, membimbing seluruh hadirin memanjatkan rasa syukur serta harapan agar kebersamaan ini senantiasa diberkahi, terjalin terus dalam kebaikan, dan menjadi amal jariyah yang bermanfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Saat diwawancarai awak media, Rahmat Hidayat selaku salah satu penggagas menyampaikan komitmennya dengan penuh keyakinan. “Kami tidak akan berhenti melaksanakan kegiatan ini sebagai wujud mempererat kedekatan kekeluargaan di lingkungan ini, agar ikatan persaudaraan tetap kokoh dan rasa kebersamaan senantiasa terjaga dengan baik. Semoga dengan peringatan 10 Muharam ini, kita semakin mendalami nilai-nilai luhur ajaran Islam dan semakin giat menyebarkan semangat persatuan di tengah masyarakat. Harapan kami, tradisi yang penuh makna ini dapat terus diabadikan dan dilaksanakan setiap tahunnya, menjadi jembatan kebaikan yang tak pernah putus,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar acara berkumpul dan makan bersama, kegiatan ini mengandung pesan mendalam sebagai pengingat akan peristiwa bersejarah serta nilai-nilai keteladanan yang terkandung dalam peringatan 10 Muharam. Melalui kebersamaan yang sederhana namun sarat makna ini, warga diajak merenungkan makna kesederhanaan, rasa syukur atas nikmat yang diberikan, serta pentingnya kepedulian dan berbagi dengan sesama. Tradisi ngaliwet ini pun menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai agama dan kearifan budaya lokal dapat berjalan selaras dan saling melengkapi, menciptakan lingkungan yang religius, guyub, damai, serta terus menjaga kebaikan ini untuk diwariskan kepada generasi penerus kelak.

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga