Rabu, Juni 3, 2026
BerandaBerandaWawancara Eksklusif: Menata Ulang Potensi Kawah Galunggung – Antara Warisan Alam, Pengelolaan,...

Wawancara Eksklusif: Menata Ulang Potensi Kawah Galunggung – Antara Warisan Alam, Pengelolaan, dan Visi Masa Depan

Oleh wahid MA *
( korlip Lintaspasundannews.com )
Tasikmalaya 14 Mei 2026 – Di jantung kawasan Priangan yang kaya pesona alam, Kawah Galunggung berdiri sebagai salah satu ikon wisata yang telah lama dikenal masyarakat. Kini, babak baru pengelolaan dimulai dengan penunjukan Yudhi Priyono sebagai Manajer Klaster Wisata Priangan sekaligus penanggung jawab utama kawasan ini. Ia menggantikan Dudung yang kini dipercaya memegang tanggung jawab di Obyek Wisata Ciwidey. Dalam wawancara mendalam ini, Yudhi Priyono memaparkan pemikirannya yang terstruktur, perbandingan analitis dengan destinasi sejenis, serta kerangka kerja strategis yang disusun untuk mengangkat kembali martabat dan daya saing Kawah Galunggung di tengah lanskap pariwisata nasional.

Perbedaan Esensial, Prinsip Pengelolaan yang Senada
Sebelumnya, Yudhi Priyono i dikenal luas atas kiprahnya dalam mengelola Obyek Wisata Baturaden, destinasi yang sama-sama mengandalkan potensi sumber daya air panas alam. Pengalaman tersebut menjadi landasan penting baginya dalam memahami dinamika pengelolaan area wisata berbasis geotermal. Namun, melalui pandangan analitisnya, ia menegaskan bahwa antara kedua kawasan tersebut terdapat perbedaan karakteristik yang mendasar, meskipun berada di bawah payung manajemen yang sama.

“Secara ilmiah maupun pengalaman lapangan, terdapat perbedaan nyata. Di Baturaden, kandungan mineral air panasnya didominasi belerang dengan kadar yang cukup tinggi, menjadikannya khas untuk terapi kesehatan tertentu. Sebaliknya, air panas di Kawah Galunggung memiliki suhu yang relatif lebih bersahabat, lebih hangat daripada mendidih, dengan komposisi mineral yang berbeda pula. Namun, jika kita bicara tentang prinsip dasar pengelolaan, pemeliharaan lingkungan, serta pelayanan kepada pengunjung, kerangka kerjanya memiliki kesamaan nilai dan standar,” ungkap Yudhi dengan jelas.

BacajugaSDIT YAYASAN BAKTi PUTRA ABADI ( YBPA) lewigoong luncurkan sistem pembelajaran, Berkatagori Kalakter siswa siswi nya sesuai dengan daya kemampuan masing masing.

Bagi seorang pengelola, pemahaman mendalam mengenai karakteristik alamiah wilayah kelolaan adalah prasyarat mutlak. Tanpa pemahaman itu, kebijakan yang diambil berisiko tidak tepat sasaran, bahkan dapat merusak potensi yang ada. Di sinilah Yudhi meletakkan fondasi awal: mengenali apa yang dimiliki, memahami keunikannya, lalu merancang strategi yang pas dengan identitas kawasan.

Salah satu prinsip utama yang ia bawa adalah pentingnya membangun ekosistem kemitraan yang kokoh. Bagi Yudhi, pengembangan pariwisata bukanlah pekerjaan sendirian, melainkan gerakan kolektif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. “Sejak hari pertama saya bertugas, saya telah melakukan rangkaian silaturahmi ke desa-sekitar, berdiskusi dengan tokoh masyarakat, berkoordinasi dengan pelaku usaha lokal, serta menjalin komunikasi intensif dengan rekan-rekan media massa. Bagi saya, hubungan yang harmonis dan saling mendukung adalah pondasi yang tidak boleh tergoyahkan,” tegasnya.

Ia juga menekankan peran strategis media massa sebagai mitra intelektual dan sosial. Pemberitaan yang tidak hanya informatif, tetapi juga konstruktif dan berimbang, dinilai mampu membangun persepsi publik yang positif, meningkatkan citra destinasi, serta berdampak langsung pada peningkatan jumlah kunjungan dan kelayakan ekonomi kawasan. “Media bukan sekadar penyebar berita, tetapi mitra dalam membangun narasi kemajuan dan keindahan Galunggung,” tambahnya.

Pembenahan Infrastruktur: Jawaban Atas Kebutuhan Dasar dan Visi Pengembangan
Meski masih dalam masa orientasi dan pengenalan lingkungan kerja, Yudhi telah melakukan pemetaan mendalam terhadap kondisi eksisting kawasan. Berdasarkan pengamatan langsung, masukan dari tim teknis, serta aspirasi masyarakat sekitar, ia mengidentifikasi sejumlah aspek yang menjadi kebutuhan mendesak untuk diperbaiki dan dikembangkan.

Fokus utama pertama adalah pada aspek panduan dan navigasi. “Kami melihat bahwa kejelasan informasi dan petunjuk arah adalah hal fundamental. Pengunjung yang datang harus dapat bergerak dengan mudah, aman, dan tidak bingung. Oleh karena itu, penambahan, pemasangan ulang, dan perbaikan papan petunjuk arah—baik di akses masuk utama maupun di seluruh titik di dalam kawasan—menjadi prioritas utama kami,” jelasnya.

Selain itu, aspek keamanan dan kenyamanan menjadi fokus sentral. Berbagai masukan yang diterima menyebutkan bahwa kondisi akses jalan di beberapa titik, kurangnya fasilitas pengamanan di jalur menurun, serta sistem penerangan yang belum memadai menjadi celah yang perlu segera di benahi

“Terdapat catatan riwayat terjadinya insiden-insiden ringan yang disebabkan oleh faktor infrastruktur yang kurang memadai. Hal ini tentu harus kami tangani dengan serius. Kami berencana memasang pembatas pengaman standar keselamatan di jalur-jalur berisiko, guna meminimalisir kemungkinan kecelakaan dan menjamin rasa aman setiap orang yang berkunjung,” kata Yudhi

Di sini terlihat perbedaan strategis antara pengelolaan Galunggung dan Baturaden. “Di Baturaden, operasional wisata berakhir saat senja, tidak dikembangkan untuk aktivitas malam hari. Namun, Galunggung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sepanjang waktu, termasuk wisata malam. Oleh sebab itu, pembenahan sistem penerangan jalan dan kawasan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mutlak yang menjadi prasyarat pengembangan visi tersebut,” paparnya dengan pandangan jauh ke depan. Langkah ini menunjukkan bahwa perencanaan yang disusun tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi, tetapi juga pada perluasan fungsi dan nilai tambah kawasan.

Sinergi Lintas Sektor: Kunci Keberhasilan Pengembangan Berkelanjutan
Yuhdi menegaskan satu hal yang menjadi landasan pemikirannya: pengembangan pariwisata tidak dapat berjalan efektif jika hanya bergantung pada kekuatan internal pengelola kawasan. Diperlukan sinergi erat, keselarasan program, dan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta lembaga terkait.

“Setelah proses serah terima tugas selesai minggu depan, langkah strategis pertama yang akan saya lakukan adalah duduk bersama Dinas Perhubungan, instansi teknis di lingkungan Pemerintah Kabupaten, serta Badan Nasional Pengelola Kawasan Khusus. Kami harus menyatukan visi, menyelaraskan program kerja, dan berkoordinasi untuk mendapatkan dukungan, baik dalam hal pembiayaan, regulasi, maupun pembenahan fasilitas umum yang menjadi wewenang pemerintah,” ungkap Yudhi

Bagi seorang akademisi dan praktisi pariwisata, ia memahami bahwa keberlanjutan sebuah destinasi sangat bergantung pada integrasi antara kepentingan komersial, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama dengan pemerintah bukan sekadar formalitas, melainkan cara untuk memastikan bahwa setiap langkah pengembangan sejalan dengan rencana induk pembangunan daerah dan aturan yang berlaku.

Di akhir wawancara, Yudhi menyampaikan harapannya yang mendalam. Dengan pembenahan bertahap, inovasi layanan, serta jaringan kerja sama yang semakin luas dan kokoh, ia ingin melihat Kawah Galunggung tidak sekadar kembali menjadi tujuan wisata populer, tetapi menjadi kawasan yang dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar maupun pengunjung yang datang.

“Galunggung memiliki keindahan alam yang luar biasa dan nilai sejarah yang tinggi. Tugas kami adalah merawatnya, menatanya, dan menyajikannya dengan cara yang terhormat, aman, dan nyaman, agar warisan alam ini dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun yang akan datang,” tutupnya dengan nada penuh tanggung jawab.

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga