Sumedang Lintaspasundannews _Benarkah Mahkota Kemaharajaan Sunda diserahkan Pajajaran (Galuh Pakuan , Pakuan Pajajaran)ke Sumedang Larang???
Ini perjalanan panjang sebuah benda penting dalam sistem kerajaan Sunda; Mahkota Binokasih Sanghyang Pake…Mahkota Sanghyang Ruku Makuta Rama….(Bino Kasih Sanghyang Pake: Sebagai Simbol Pemersatu dengan Bingkai Kasih dan Sayang:Ajaran Tertinggi dari Bangsa Sunda adalah Cinta Kasih/Rahman Rahim/Welas Asih….)
Sebuah mahkota yang di Buat Atas Prakarsa dari Prabu Bunisora Suradipati_Wawakil Raja Sunda pasca wafatnya Prabu Linggabuana di Peristiwa Bubat, karena saat itu putra mahkota penerus tahta yatim piatu dan baru berusia sekitar 9 tahun (Rakean Pitara/Prabu Ningrat Kancana/Maha Prabu Niskala Wastu Kancana)
Mahkota Binokasih adalah bentuk kasih sayang sang “Wali Raja” terhadap putra mahkota(Rakean Pitara)_ yang ia rawat, ia didik, ia bina sejak usia 9 tahun hingga usia 23 tahun saat dinobatkan sebagai maharaja Sunda dengan gelar Prabu Niskala Wastukancana.
Jadi, mahkota itu tidak dipakai sendiri oleh Sang Bunisora, namun dipersiapkan untuk keponakan kesayangannya saat dilantik menjadi maharaja Sunda yang saat itu berpusat di Galuh Kawali Mayadatar
Bunisora berharap dengan memakai mahkota itu sang Prabu akan bertitah dengan adil dan bijaksana sebagaimana Dewa Indera. Mahkota Binokasih secara artistik dibuat dan terinspirasi dari mahkota yang dipakai Dewa Indera.
Bacajuga:Pemkabtasik Bupati Cecep Dorong Peningakatan Layanan Perumada air minum Tiara sukapura
Dan Akhirnya terberkati Sang Raja Mampu menjalankan Amateguh Kadatuan dan seluruh Paugeran Purba Tisti Purbajati tergenapi dengan Sebaik Baiknya… Apa yang diimpikan dan di Cita Cita kan Sang Bunisora terwujud. Sejarah mencatat Prabu Niskala adalah raja Sunda yang sukses memakmurkan negeri dan mensejahterakan rakyatnya, bertindak adil dan bijaksana, bertahta lama; lebih dari 100 tahun. Saking dihormatinya, rakyat Sunda memberi gelar Prabu Wangi Sutah kepadanya.
Setelah Prabu Niskala Wastu Kancana wafat, kerajaan Sunda terpecah menjadi dua wilayah kerajaan; Kerajaan Sunda di Pakuan Bogor (Sang Haliwungan Prabu Susuk Tunggal )dan Galuh di Kawali Ciamis. Mahkota di pakai oleh Prabu Dewaniskala atau Sang Anggalarang, raja Galuh.
Situasi politik sunda mulai berubah saat Prabu Anggalarang dianggap melakukan sebuah skandal; melanggar purbatisti dan purbajati yg dibuat oleh leluhur Sunda: Prabu Darmasiksa. Ahirnya Pangeran Jayadewata didapuk menggantikan ayahnya. Tahta dan mahkota turun kepada Jayadewata.
Untuk meredakan situasi politik, Raja Sunda di Pakuan pun menyerahkan tahta kepada (Kaka Rajasunu,Aria Keukeumbingan,Rakean Pamanah Rasa,Prabu Lingga Wastu Ratu Purune Jayadewata)Sri Jaya Dewata dengan syarat harus menikahi putri sang Raja, Kentring Manik Mayang Sunda. Secara resmi, Galuh dan Sunda kembali dipersatukan. Penobatan dilakukan, Prabu Lingga Wastu Sri Jayadewata diberi gelar dan di nobatkan Kembali di Pakuan Dengan Gelar Sri Baduga Maharaja Prabu Aji Jayadewata Tohaan Ri Nagri Sunda … Kemudian ia dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Ibukota yang semula di Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran Pada Tahun 1482 Masehi
Pasca Prabu Siliwangi, secara berturut-turut mahkota dipakai oleh penerusnya yaitu Prabu Surawisesa, Ratu Dewata, Ratu Sakti, Nilakendra dan Raja terakhir Pajajaran Prabu Ragamulya Suryakancana/Prabu Seda Nusiya Mulya
Tak lama… setahun sebelum Pajajaran runtuh total, mahkota dan Seluruh Ornamen dan Panji Panji Kebesaran Pajajaran diberikan kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedang Larang, diantar oleh empat senopati Pajajaran yang dikenal dalam Carita Parahyang sebagai Opat Kandang Rante Dan 26 Umbul Kapetengan/Pamuk..Semuanya Adhok menjadi Kandaga Lante…Dan Pimpinan Seluruh Pasukan tertinggi Pajajaran disebut Bala Pati Kandang Rante (Mbah Sayang Hawu/Jaya Kusumah/Jaya Perkasa/Sanghyang Parako,Dipati Wiradigjaya/Nangganan,Batara Pancar Buana/Mbah Terong Peot, Senopati Kondang Hapa). Ini adalah langkah politis dan simbolis… Strategis (GEO Politik, GEO Kawasan)
Beberapa sumber menyebutkan, Pajajaran runtuh 1579 masehi; Pajajaran Sirna Ning Bumi Ing Ekadaci Cukla Paksa Wesaka Masa Saharsa Limangatus Punjul Siki Ikang Chaka Kala….448 tahun lalu….
Demikianlah Sekilas Sejarah Singkat berkaitan dengan Keberadaan Mahkota Bino Kasih Sanghyang Pake di Telatah Sumedang Larang.. Kabupaten Sumedang Saat Ini…
Sumber: Naskah kuno Kitab Waruga Jagat,Babad Paku Danghyang Pangjagaan/Babad Pajangan/Naskah Carita Parahyangan/Naskah Kuno Pangeran Wangsa Kerta
(Cakra Manggilingan Ratu Sinisihan Wahyu…Ratu Amisan Heru Cakra…..)
,,Maca Alam Maca Zaman,Maca Uga Zaman)
Ditiung Samemeh Hujan.
,,Japati Hiber Ku Jangjangna.
,,Itikad Hade Hasilna Tangtu Hade..
,,Baris ka Sagala Barudak Sunda,Iyeu Supaya jadi Tanda Kekuatan.
,,Alat Seundak Karaharjaan, Alas Dampal Kawaluyaan, Payung Agung Karahayuan.
(Asep Djamu)



