Senin, Mei 4, 2026
BerandaBerandaDUA PENDEKAR PENA TASIKMALAYA,BIKIN KOLONIAL BELANDA DAN JEPANG SEGAN

DUA PENDEKAR PENA TASIKMALAYA,BIKIN KOLONIAL BELANDA DAN JEPANG SEGAN

Kabaupaten Tasikmalaya Lintaspasundannews.Gerakan moral jurnalistiknya,Rd.Sutisna senjaya(Abah Sutsen)dan Rd.Ikik Wiradikarta adalah dua pendekar pena Tasikmalaya yang bikin kolonial Belanda dan Jepang segan.

Pena lebih tajam dari bambu runcing.Rd.Sutisna Senjaya atau lebih dikenal dengan Abah Sutsen,lawan dengan kata,20 April 1923 terbitkan Sipatahoenan dari Tasikmalaya.Modal idialisme,tanpa gaji.Isinya kritik tajam soal tanam paksa,kerja rodi,diskriminasi pribumi.Dibrendel dua kali oleh Belanda,bukti tulisannya mencekam kolonial,makin di brendel makin dibaca rakyat ketika itu.Fatwa politik,bersama KH.Ruhiat nyatakan pemerintah Hindia Belanda cuma punya kekuasaan politik bukan agama.Ini pembuka kesadaran rakyat Tasik,boleh taat aturan ,tapi wakib lawan penjajah.

Bacajuga:Bangun Soliditas dan Kepedulian Lingkungan, Kapolres Tasikmalaya Kota Pimpin Olahraga Bersama dan Aksi Bersih Situ Gede

Rd.Ikik Wiradikatta Penurus obor 1950-an.Waktu belanda udah pergi,Jepang dan DI/TII datang.Rd.Ikik pakai koran lokal Tasik buat jaga moral rakyat.Tulisannya fokus bela pasantren,petani,pedagang kecil yang terjepit konflik.Jaga Tasik dari propaganda,era DI/TII dan G.30 S.Wartawan Sepuh kayak beliau nulis buat menetralisir hasutan Gayanya santun tapi menusuk,ngetik siang,dibaca tentara malam.

Gerakan moral Jurnalistik mereka 3 Jurus:

1.Membangun kesadaran Pakai bahasa sunda halus tapi isinya perlawanan.Rakyat tani ngerti”kita dijajah’.Belanda bingung rakyat melek politik tanpa angkat senjata.

2.Bela kaum tertindas,Sipatahoenan dan koran Tasik,jadi pengadilan rakyat,siapa di jalimi Belanda ditulis pejabat kolonial malu,takut namanya masuk koran.

Jaga moral bangsa

Tolak jadi corong penjajah .Abah sutsen milih di brebdel daripada nurut sensor.Kolonial menjadi segan.Wartawan Tasik tidak bisa dibeli.

3.Warisan untuk Tasikmalaya: Tasik jadi kota pena dari sipatahoenan 1923 lahir tradisi kritis priangan Timur.

Jalan Sutisna Senjaya sekarang ada dipusat kota,pengingat kalau kemerdekaan juga direbut pakai mesin tik.

Teladan wartawan,moral mereka jelas”hidup dari pena,mati untuk bangsa”tidak cari kaya tapi cari merdeka.Kalau Subchan ZE dan Aidit perang disenayan.Tapi Sutsen dan Ikik perang diredakai.Pelurunya tinta,sasarannya kesadaran rakyat.itu yang membuat kolonial mencekam dan segan.

Kearipan lokal nu jadi napas nasional.Tipagar betis,Sipatahoenan ,pesantren Vipasung,dugi ka obor pena,Rd.Ikik dan avah sutsen,kabeh bukti yen Tasik sok ngajaga NKRI,ku cara sorangan.

Rd.Sutsen mempunyai julukan Abah Sutsen ,Bapak Pers Sunda.Beliau mendirikan Redaktur Silawangi 1921-1922.dan Al Mawa’idz 1933,majalah resmi PC.NU Tasikmalaya Beliau pernah jad ketua i Tan fiz NU Tasikmalaya,juga pernah menjabat PWNU jadi Jawa Barat 1948.

Pernah jadi Manager SDM.

Penulis; Ki ACEP AAN.Pernah jadi Manager SDM Watawan Majalah tentara -polisi.( 2005)Kepala Biro Buser Trans Tasikmalaya,dll.(Tasik, April 2026)

 

 

Artikel Lainya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
spot_img

Baca Juga