Oleh: Wahid MA
Editor • lintaspasundannews.com
Tasikmalaya, 3 September 2026 — Realisasi Dana Desa Tahap II Desa Sinagar tahun ini berjalan di tengah tekanan anggaran yang luar biasa. Sebagian alokasi pembangunan fisik telah mengalami pemangkasan dan dialihkan ke program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sehingga porsi untuk infrastruktur menjadi sangat terbatas. Kendati demikian, melalui musyawarah yang melibatkan perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, serta tokoh masyarakat, Pemerintah Desa Sinagar tetap bertekad mewujudkan perbaikan Irigasi Sukahurip Pereng — bukan hanya sebagai saluran pengairan, melainkan jalur vital yang menyatukan kepentingan pertanian, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
Tantangan Anggaran yang Nyata
Pelaksana kegiatan dana desa, Bapak Ukai Sukarso, memaparkan realitas di lapangan dengan penuh kejujuran. Pembangunan irigasi direncanakan sepanjang 85 meter dengan ketinggian dinding 1,6 meter. Namun pagu anggaran yang tersedia hanya sebesar Rp50 juta dan itu belum dipotong pajak 13 persen. Jika dibandingkan dengan standar biaya Dinas Pekerjaan Umum, nilainya sangat jauh berbeda.
“Kami sangat menyadari keterbatasan ini. Namun kami tidak bisa membiarkan kebutuhan mendesak warga terabaikan. Segala upaya kami kerahkan agar kualitas tetap terjaga setinggi mungkin, walau dengan kemampuan anggaran yang ada,” ujar Ukai Sukarso.
Apresiasi dari Tokoh Masyarakat dan Pegawai KUA
Jalur ini bukan sekadar saluran air, melainkan galengan sawah sekaligus akses utama warga Kampung Pereng dan Sukahurip. Lebih menyentuh hati, lebar badan jalan hanya berkisar 1–2 meter — sempit, namun dilalui setiap hari oleh anak-anak PAUD, para guru, serta pegawai dan staf Kantor Urusan Agama Kecamatan Sukaratu.
H. Ace . Badruddin, tokoh masyarakat Desa Sinagar yang juga beraktivitas di KUA Sukaratu, menyampaikan apresiasi yang mendalam:
“Saya sendiri setiap hari melintas di jalan ini untuk beraktivitas di KUA. Jalan ini bukan milik kelompok tertentu saja — ini adalah jalan bagi anak-anak PAUD yang menuntut ilmu, para guru yang membimbing mereka, serta kami yang bertugas di pelayanan agama. Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Pemerintah Desa Sinagar yang tetap memprioritaskan jalur vital ini di tengah keterbatasan anggaran. Perhatian ini sangat berarti bagi kenyamanan dan keamanan kami semua.”
Keterbatasan yang Diberanikan: Permohonan Maaf Bendahara Desa
Di kesempatan terpisah, Bendahara Desa Sinagar, Ibu Imas, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh warga atas keterbatasan realisasi pembangunan yang bersumber dari Dana Desa tahun ini.
“Dengan segala kerendahan hati, saya memohon maaf kepada masyarakat. Realisasi pembangunan yang dialokasikan dari Dana Desa belum dapat berjalan secara maksimal, dan pemanfaatannya pun baru mencakup sebagian kecil saja. Khusus untuk pembangunan irigasi, baru satu sisi yang dapat kami kerjakan — belum mencakup kedua sisi — semata-mata karena keterbatasan anggaran yang sangat minim.”
Ibu Imas mengakui dilema yang dihadapi pihak desa: anggaran yang semakin berkurang, sementara kebutuhan masyarakat terus bertambah. Tak jarang, desa pula yang menjadi sasaran sorotan ketika masyarakat menilai pembangunan belum merata di seluruh wilayah.
“Kami pun sering merasa bingung menghadapi realitas ini. Anggaran yang diterima semakin terbatas, namun tuntutan dan kebutuhan warga terus ada. Sekali lagi, kami memohon pengertian dari seluruh masyarakat. Alokasi untuk pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Desa Sinagar belum sepenuhnya dapat kami akomodir tahun ini. Besar harapan kami, ke depannya ada bantuan Pokir dari para Anggota DPRD, dari fraksi manapun, yang memiliki niat tulus membangun Desa Sinagar. Semoga ada partisipasi dan dukungan tersebut agar kebutuhan masyarakat dapat lebih terpenuhi.”
Tekad di Tengah Keterbatasan
Keprihatinan sekaligus tekad pelaksana kegiatan tetap teguh: “Kami berupaya sekuat tenaga agar walau anggaran terbatas, hasilnya tetap aman, nyaman, dan bermanfaat bagi semua pihak yang melintas.” Di tengah segala keterbatasan, semangat untuk melayani dan mengutamakan kepentingan masyarakat tetap menjadi pegangan utama. Pembangunan ini menjadi bukti bahwa dengan musyawarah, keikhlasan, dan kerja sama, hal yang sulit pun tetap dapat diwujudkan demi kebaikan bersama.



