Limbangan Garut Lintaspasundannews.com
81 tahun Indonesia merdeka. Bendera berkibar, upacara khidmat, lomba meriah. Tapi di balik gegap gempita itu, ada satu kemerdekaan yang masih tertatih: *Kemerdekaan Budaya*.
*Indonesia Kaya, Tapi Pewarisnya Terlupakan*
Indonesia adalah negeri yang kaya budaya. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah menyimpan tarian, musik, bahasa, naskah, dan nilai luhur. Di Limbangan, Garut misalnya, kita punya jejak *Galeuh Pakuan 1525*, warisan para adipati, dan kearifan lokal yang hidup di masyarakat. Kekayaan ini bukan sekadar hiasan pariwisata. Ini adalah jati diri bangsa.
*Anggaran Ada, Tapi Tidak Menyentuh Akar*
Ironisnya, banyak pelaku budaya hari ini perlahan redup bahkan terancam hilang. Bukan karena tidak ada karya, tapi karena tidak ada kepedulian. Anggaran budaya sering kali turun, namun tidak tepat sasaran. Hibah dan bantuan hanya mampir di atas kertas, di meja rapat, dan di acara seremonial. Sementara para seniman, budayawan, dan guru penggerak budaya di kampung harus bertahan dengan tangan kosong.
*Pemerintah Menutup Mata pada Pejuang Tulus*
Pemerintah seolah menutup mata pada para pegiat budaya yang militan. Mereka yang mendedarmabhaktikan hidupnya untuk menjaga dan melestarikan warisan. Tidak menuntut panggung, tidak mengejar popularitas. Yang mereka butuhkan hanya ruang dan dukungan agar warisan leluhur tidak punah di tangan kita. Namun suara tulus ini sering kalah oleh suara bising kepentingan.
*Racun Politik Balas Budi*
Lebih memprihatinkan lagi, politik balas budi telah masuk ke ranah budaya. Jabatan, dana, dan panggung diberikan bukan berdasarkan karya dan integritas, melainkan karena kedekatan, karena “tim sukses”, karena “saudara dan kerabat”. Akibatnya, orang-orang nasionalis yang militan justru tersingkir. Yang tersisa adalah mereka yang pandai menjilat, bukan yang pandai berkarya. Ini sama saja dengan menghancurkan kekayaan intelektual bangsa dari dalam.
*Kemerdekaan Berkarya yang Tidak Merdeka*
Kemerdekaan berkarya hari ini terasa semu. Dukungan penuh hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Sementara budayawan kampung, guru, dan seniman akar rumput harus berjuang sendiri. Jika kondisinya seperti ini, lalu bagaimana bisa maju? Bagaimana bisa bangga dengan budaya sendiri jika negara dirasa hanya milik perorangan atau kelompok kapitalis?
*Bukti Nyata: Bergerak Walau Tanpa Dukungan*
Di tengah keterbatasan itu, kami tetap bergerak. *Membangun museum dengan dana pribadi* agar anak cucu punya tempat belajar sejarah. *Menggelar kegiatan tahunan Kemah Budaya* agar generasi muda kenal akar dan jati dirinya. *Rutin mengadakan Sawala Adat Budaya Sunda* sebagai ruang diskusi, muhasabah, dan penguatan nilai. Serta *terus melestarikan seni tradisi yang masih ada* meski hanya dengan tenaga, waktu, dan sisa rezeki.
*Tetap Mengabdi Tanpa Pamrih*
Saya *Nyai Tangulun /Ani Suhartini*, sebagai budayawan lokal dan guru kampung, memilih untuk tetap mengisi kemerdekaan. Meski tanpa tepukan, tanpa penghargaan, apalagi dukungan materil. Kami tetap mengajar, tetap melestarikan, tetap menulis dan mendongeng. Karena pengabdian kami adalah untuk tanah air yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Kemerdekaan budaya bukan soal dana besar. Kemerdekaan budaya adalah keberanian untuk tidak melupakan. Keberanian untuk menghargai setiap perjuangan sekecil apapun.
Di usia RI ke-81 ini, sudah saatnya kita bertanya: Mau sampai kapan budaya hanya jadi slogan? Sudah saatnya merdeka dari penjajahan, jangan sampai kita dijajah oleh kelalaian kita sendiri.
*DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81*
*MERDEKAKAN BUDAYA. MULIAKAN PEJUANGNYA.*



