Lintaspasundannews.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(02/04/2026) ~ Ketika ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat, dunia justru tampak membisu. Negara-negara besar yang selama ini menggaungkan perdamaian seolah terjebak dalam kalkulasi kepentingan masing-masing. Diplomasi berjalan lambat, pernyataan normatif berulang, namun tindakan nyata untuk menghentikan eskalasi nyaris tak terlihat. Ini bukan sekadar konflik regional—ini adalah potensi krisis global yang dapat mengguncang ekonomi, keamanan energi, hingga stabilitas sosial lintas benua.
Secara akademik, konflik ini mencerminkan kegagalan sistem internasional dalam menjalankan fungsi utamanya: mencegah perang dan menjaga keseimbangan. Teori realisme menjelaskan bahwa negara akan selalu mengedepankan kekuatan dan kepentingan nasional dibanding moralitas global. Dalam konteks ini, Amerika Serikat dan Israel menunjukkan pola klasik dominasi—mengandalkan kekuatan militer dan tekanan geopolitik untuk mempertahankan pengaruh. Namun, pendekatan ini justru memicu resistensi keras dari Iran, yang merasa kedaulatannya terus ditekan.
Arogansi kekuatan yang selama ini dipertontonkan kini menghadapi batasnya. Iran, dengan jaringan aliansi regional dan strategi asimetrisnya, mampu mengimbangi tekanan tersebut. Inilah momen di mana adagium “di atas langit masih ada langit” menemukan relevansinya. Tidak ada kekuatan absolut di dunia yang bisa bertindak tanpa konsekuensi. Ketika satu pihak terus menunjukkan superioritas, pihak lain akan mencari cara untuk menyeimbangkan—dan konflik pun menjadi tak terhindarkan.
Bacajuga:Ki Acep Aan 1973: ASET SOEKAPURA SITU,SAWAH,KEBUN DI CILAMBU MANONJAYA TINGGAL KENANGAN
Dampak dari konflik ini bukan hanya milik para aktor utama. Dunia akan menanggung akibatnya: lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok global, hingga potensi krisis kemanusiaan. Negara-negara berkembang akan menjadi korban paling rentan, terhimpit oleh inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Ironisnya, justru mereka yang tidak terlibat langsung akan merasakan penderitaan paling dalam.
Lalu mengapa dunia tampak menjadi penonton? Jawabannya sederhana namun pahit: kepentingan. Banyak negara memilih netral bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut kehilangan posisi strategis. Organisasi internasional pun sering kali terjebak dalam veto politik dan kepentingan blok kekuatan. Akibatnya, perdamaian hanya menjadi wacana, bukan agenda nyata.
Namun, di tengah pesimisme ini, peluang untuk perdamaian abadi tetap ada—jika pendekatan diubah secara fundamental. Pertama, diperlukan diplomasi multilateral yang independen, tidak didominasi oleh kekuatan besar. Kedua, harus ada pengakuan atas kepentingan keamanan semua pihak, termasuk Iran, tanpa standar ganda. Ketiga, tekanan global harus diarahkan bukan untuk memenangkan satu pihak, tetapi menghentikan siklus eskalasi.
Perdamaian tidak akan lahir dari dominasi, melainkan dari kesadaran kolektif bahwa konflik ini tidak memiliki pemenang sejati. Dunia tidak bisa terus menjadi penonton. Jika tidak ada keberanian untuk bertindak sekarang, maka yang tersisa hanyalah penyesalan ketika dampaknya telah menghantam seluruh bangsa tanpa kecuali.
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
TINGGAL DI-KAMPUNG TERPENCIL DARI DESA TERTINGGAL.
#NEGARADISELURUHDUNIA,#KEDUTAANBESARIRAN,#KEDUTAANBESARAMERIKASERIKAT,#PENCINTADANPENGGIATPERDAMAIAN,#HAKAZASIMANUSIA,#BANGSASUNIA,#FYP,#VIRAL,#INDONESIANTOPOFTHEWORLD



