Lintaspawundannewa.SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA.(31/03/2026) ~ Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap masa depan anak bangsa, kembali tercoreng. Di Desa Puspajaya, Kecamatan Puspahiang, dugaan pembagian makanan dalam kondisi basi dan beraroma tak sedap justru diberikan kepada anak-anak—kelompok paling rentan yang semestinya dilindungi, bukan dijadikan objek kelalaian.
Fakta ini bukan sekadar insiden teknis di dapur penyedia, melainkan cerminan lemahnya pengawasan dalam rantai distribusi. Penyaji makanan dari SPPG HDMI Puspajaya patut dipertanyakan profesionalismenya. Bagaimana mungkin makanan yang jelas tidak layak konsumsi bisa lolos hingga ke tangan anak-anak? Apakah standar kelayakan pangan hanya formalitas di atas kertas?.
Lebih jauh, kejadian ini mengindikasikan potensi pembiaran yang sistematis. Program sebesar MBG seharusnya memiliki kontrol kualitas berlapis—dari proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi. Jika satu saja mata rantai abai, maka yang dikorbankan adalah kesehatan generasi muda. Ini bukan sekadar soal basi atau tidak, tapi soal tanggung jawab moral dan integritas pelaksana program.
Ironisnya, kejadian serupa bukan pertama kali terdengar. Pola berulang ini menguatkan dugaan bahwa evaluasi hanya bersifat seremonial, tanpa tindakan tegas di lapangan. Jika dibiarkan, MBG bisa berubah dari program mulia menjadi ancaman laten bagi kesehatan publik.
Pemerintah daerah, dinas terkait, hingga pengelola SPPG HDMI harus segera turun tangan melakukan audit menyeluruh. Jangan tunggu ada korban keracunan massal baru bergerak. Transparansi, sanksi tegas, dan perbaikan sistem adalah harga mati.
Jika anak-anak saja diberi makanan yang tak layak, lalu untuk siapa sebenarnya program ini dijalankan?
IWAN SINGADINATA.
(KONTRIBUTOR BERITA DAERAH)
#KECAMATANPUSPAHIANG,#DESAPUSPAJAYA



